05 November, 2007

DINASTI IBNU THULUN (Pembentukan, Kemajuan, dan Kemunduran)

DINASTI THULUNIYAH
1. Riwayat singkat Thuluniyah
Thuluniyah adalah sebuah dinasti yang muncul dan berkuasa di Mesir pada abad ke-9 (3 H), yakni dari 868 M (254 H) sampai 905 M (292 H). Sejak 877 M (263 H) dinasti ini melepaskan dirinya dari khilafah Bani Abbas dan dengan demikian Mesir pertama kalinya setelah berlalu masa sembilan abad, menjadi negara merdeka (tidak menjadi profinsi atau bagian dari imperium Romawi (30 SM-642 M/21 H), khilafah Khulafa al-Rasyidin (642 M/21 H- 665 M/40 H), khilafah Bani Umayyah (665 M/40 H-750 M/132 H), dan khilafah Bani Abbas (750/132 H), sampai dinasti Thuluniyah melepaskan diri dari khilafah Bini Abbas pada 877 M/263 H.

2. Pembentukan dinasti Ibnu Thulun
Pembentuk/pendiri dinasti Thuluniyah adalah Ahmad bin Thulun, seorang berdarah Turki. Ayahnya dikirim bersama dengan pemuda-pemuda yang lain oleh gubernur Bukhara di Transoxsiana sebagai hadiah untuk khalifah Abbasiyah, al-Ma’mun dan dia menjadi orang terkemuka di istana. Anaknya, Ahmad, gubernur Mesir yang akan datang, diajari bahasa Arab, Alquran dan hukum Islam secara mendalam. Dia mengunjungi perbatasa profinsi Tarsus beberapa kali untuk belajar di bawah seorang sarjana special hingga dia sendiri menjadi ahli dalam studi Islam, juga melebih dalam seni militer yang diajarkan kepada anak-anak muda Turki pada masa itu. Pada mulanya ia dikiraim dari Baghdad ke Mesir pad 686 M (254 H) untuk menjadi wakil gubernur Mesir. Pada 873 M (259 H) ia melepaskan diri dari khilafah Bani Abbas , dan menaklukkan Damaskus, Homs, Homat, Aleppo, dan Antiokia (semuanya di Syam dan Syiria). Dengan demikian ia bukan saja membuat Mesir merdeka (berdiri sendiri) tetapi bahkan berkuasa atas tanah Syam, suatu keadaan yang tidak pernah terjadi setelah setelah Mesir ditaklukan Persia pada 340 SM. Untuk memudahkan usaha kontrol atas tanah Syam ia membangun armada laut yang kuat dan pangkalan angkatan laut di Akka (Syam).
Sejak melepaskan diri dari Bani Abbas, Ahmad bin Thulun tidak pernah lagi mengirim sepeser uang cukai negeri Mesir ke Baghdad. Kekayaan Mesir dimanfaatkan untuk Mesir sendiri. ia bangun kota Qota’i di sebelah utara Fustat, sebagai ibukota baru, meniru model kota Samarra yang berada di utara Baghdad . Ia bangun rumah sakit besar. Rimah sakit yang pertama muncul di Mesir dan ia bangun Mesjid Agung yang dikenal dengan nama Jami’ Ibnu Thulun yang pada bagian dalamnya terukir lebih kurang sepertujuh belas dari seluruh ayat-ayat Alquran dengan huruf Arab Kufi. Banyak bangunan-bangunan megah ia dirikan untuk menambah semaraknya kota yang menjadi tandingan bagi kota Samarra itu.
3. Kemajuan Dinasti Thuluniyah
Perhatian Ahmad bin Thulun kepada bidang perekonomian cukup besar. Tempat ukuran air sungai Nil (nilometer) di pulau Raudah diperbaiki, bendungan dan seluruh irigasi ditambah, sehingga areal pertanian menjadilebih luas, dan kegiatan industri mendapat motivasi kuat darinya. Di masa itu terdapat industri senjata, sabun, gula, kain, dan lain-lain. Jembatan, terusan, dan armada perhubungan darat, sungai, dan laut diperbesar demi ramai dan lancarnya lalu lintas perdagangan dalam seluruh wilayah yang dikuasainya. Pada mesjid agung itu disediakan dokter-dokter khusus setiap hari jum’at untuk mengobati orang-orang sakit dengan cuma-cuma. Begitupun ia membangun sekian banyak mustasyfa yakni rumah sakit umum untuk menampung para pasien dari segala agama dan aliran dan memperoleh perawatan dengan cuma-cuma sampai sehat. Pendeknya, Ahmad ibn Thulun setelah melalui kerja keras berhasil mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pada 904 M (270 H) ia wafat dengan meninggalkan nama yang harum sebagai seorang hafiz, negarawan pemberani, pemurah serta dekat dengan ulama dan rakyat.
Selanjutnya dinasti Thuluniyah dipimpin oleh putranya, Khumarawaih yang baru berusia 20 tahun. Segera amir yang baru ini mendapat tantangan berat. Damaskus diserang oleh pasukan gabungan (terdiri dari pasukan al-Muwaffiq, saudara khalifah Baghdad, pasukan Ibnu Kindag, gubernur Mosul dan pasukan Muhammad bin Abi Sibag, gubernur Armenia). Amir Khumarawaih maju memimpin sendiri pasukannya untuk merebut kembali Damaskus pada 907 M (273 H), dan berhasil memaksa al-Muwaffiq dan khalifah Mu’tamid untuk mengakui kedaulatan dinasti Thuluniyah di Mesir dan Syam. Kekuasaan Khumarawaih semakin mantap dan luas setelah musuh-musuh utamanya meninggal (al-Muwaffiq dan Ibnu Kindag pada 912 m (278 H) dan khalifah Mu’tamid pada tahun berikutnya).
Dengan kekayaan yang melimpah, Khumarawaih mendirikan lagi gedung-gedung megah dan taman-taman yang indah. Ia gunakan uang antara lain 900.000 dinar pertahun untuk pembiayaan pasukan dan 23.000 dinar perbulan untuk menyediakan makanan gratis bagi para fakir dan orang-orang lemah melalui dapur-dapur umum. Dalam istananya yang megah terdapat Golden Hall, aula dengan dinding yang berlapis emas dan dihiasi dengan gambar para istrinya dan gambar para penyanyi istana. Istananya terletak di tengah taman yang penuh dengan aneka bunga yang tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk ungkapan-ungkapan berbahasa Arab. Sebuah kolam renang berlapis perak di halaman istana, kebun binatang dan istana burung ikut melengkapi semaraknya istana dinasti Thuluniyah.
4. Kemunduran dinasti Thuluniyah
kematian Khumarawaih pada tahun 895 M (282 H) merupakan awal kemunduran dinasti itu. Persaingan yang hebat antara unsur-unsur pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti. Amir yang ketiga, Abu al-Asakir bin Khumarawaih dilawan oleh sebagian pasukannya dan dapat disingkirkan (896 M/283 H). Adiknya yang baru berusia 14 tahun, Harun bin Khumarawaih diangkat sebagai Amir yang keempat. Akan tetapi, kelemahan sudah sedemikian rupa sehingga wilayah Syam dapat direbut oleh pasukan Qaramitah. Amirnya yang kelima, Syaiban bin Ahmad bin Thulun, hanya 12 hari saja memerintah, karena ia menyerah ke tangan pasukan Bani Abbas yang menyerang Mesir pada tahun 905 M (292 H), dan dengan demikian berakhirlah riwayat dinasti Thuluniah.
DINASTI IKHSYIDI
1. Pembentukan dinasti Ikhsyidi
Ikhsyidiyah adalah dinasti kedua yang muncul di Mesir dan berhasil melepaskan diri dari kekuasaan khalifah Bani Abbas (yang pertama adalah dinasti Thuluniyah). Dinasti Ikhsyidiyah ini berdiri dari tahun 935 M (323 H) sampai 969 M (358 H), dan mempunyai lima orang amir, yaitu;
1. Muhammad bin Tugj al-Ikhsyidi (935-946 M / 323 -334 H)
2. Abu al-Qasim Unughur bin Muhammad (946-960 M / 334-349 H)
3. Abu al-hasan Ali bin Muhammad (960-966 M / 349-355 H0
4. Kafur (966-968 M / 355-357 H)
5. Abu al-Fawaris Ahmad bin Ali (968-969 M / 357-358 H)
Pendiri dinasti ini Muhammad bin Tugj adalah seorang yang berdarah Turki dari Fargana. Pada mulanya ia menjadi bawahan gubernur Mesir, Ibnu Bistam (sampai 910 M / 297 H), kemudian Abi al-Qasim Ali; dan ikut bertempur di bawah komando Tiskim melawan pasukan Fatimiyah yang menyerbu berulang-ulang ke Mesir. Banyak prestasi gemilang yang dapat diperbuat Muhammad bin Tugj sehingga pantas ia sejak 935 M (323 H) menjadi penguasa tertingg (gubernur/amir) atas wilaya Mesir, Syam, dan Hejaz. Pada tahun 939 M (327 H) ia digelari “al-Ikhsyidi” (gelar raja-raja Farghana dulunya) oleh khalifah Bani Abbas, Radi. Dia kemudian turut andil dalam menagkis serbuan Fatimiyah di Nesir dan ia diangkat sebagai gubernur Iskandariah sehingga ia dipercaya dengan kegubernuran Mesir pada tahun 323 H / 934 M, sebagai hadiah untuk kemenangannya terhadap Fatimiyah di Afrika Utara. Pada tahun 324 H, khalifah Abbasiyah menganugerahkan gelar “al-ikhsyid” kepadanya yang disisipkan dalam khutbah jum’at dan ditulis dalam mata uang.
2. Kemajuan dinasti Ikhsyidiyah
Selama pemerintahan Ikhsyidi Mesir sangat kuat, kesentosaan dan ketertiban seluruhnya ditegakkan di bawah pasukan perang al-Ikhsyidi sejumlah 400.000 orang, 8000 orang dijadikan pasukan pengawalnya. Pembayaran dan hadiah (gaji) mereka dibekali secara teratur dari sumber kekayaan yang berlimpah-limpah.
Dia memberi beberapa sistem irigasi dan memberi gambaran tentang peta-peta banjir sungai Nil pada tanggal 14 November, dan konklusi / kesimpulan mereka di delta sungai Nil pada bulan Januari. Beberapa ahli sejarah juga menerangkan bahwa Ikhsyid memberi izin kepada rakyat untuk menggali harta kekayaan terpendam dari apa yang mereka katakan, mereka sudah mendapatkan petunjuk tentang barang yang mereka inginkan dalam manuskrip kuno tetapi mereka hanya menemukan gua-gua dari ruang bawah tanah, penuh dengan patung terbuat dari tulang dan debu yang disebut dengan mummi. Tampaknya yang dapat dibangun oleh dinasti Ikhsyidiyah di Mesir adalah istana baru di pulau Raudah, yang terkenal dengan “al-Mukhtar”. Selain itu dibangun juga “Taman Kafur” dan “Medan Ikhsyidiyah.” Ikhsyid meninggal dunia pada tahun 334 H / 946 M dan digantikan oleh anak tertuanya Anujur.
Dia memadamkan kerusakan dengan suatu kebijaksanaan, di mana kebijaksanaan itu dihormati dengan penuh konsiderasi oleh seluruh pegawai-pegawai resmi umum. Segera setelah itu berita tiba bahwa Hamdaniyah, Sayf al-Dawlah sudah menduduki Damaskus dan sedang berjalan menuju Raudah. Kafur berhasil mengecek perkembangan Sayf al-Dawlah. Hal ini menambah reputasinya dan walupun dia tidak memegang kekuasaan konstitusional, dia mampu mengauasai seluruh masalah di negaranya. Dia diakui dengan gelar “Uztadz” (tutor) dan sebagian besar penduduk yang dipengaruhinya. Dengan gelar ini namanya disebutkan di dalam khutbah jum’at dan dia berhasil dalam membujuk pimpinan pegawai-pegawai dengan mengusahakan mereka bantuan-bantuan yang berwujud.
Karena Anujur tumbuh lebih tua atau dewasa, sekalipun demikian, permusuhan timbul antara Kafur dan dia sendiri. Setiap hari keduamya didukung oleh golongannya dan setiap orang menjaganya melawan yang lain. Permusuhan mereka tumbuh lebih sengit dan pasukan perang pecah menjadi dua golongan yaitu;
1. Golongan Kufuriyah yaitu Mamluk (hamba-hambanya) Kafur yang sudah diangkat olehnya di tempat kekuasaan yang tertinggi.
2. Golongan Ikhsyidiyah yaitu hamba-hamba (Mamluk) dan pengikut keluarga Ikhsyidiyah. Pada tahun 349 H / 960 M Anujur meninggal dunia, mayatnya dibawa ke Jerusalem dan dikubur dekat makam ayahnya. Kafur sekarang sudah cukup kuat untuk mengontro pengangkatan seorang pengganti dan putra Ikhsyidiyah kedua, Ali menggantikannya dengan uang pensiun tahunan sebesar 400.000 dinar. Seluruh administrasi Mesir dan Syiria ditahan di bawah kekuasaan Kafur.
Gubernur baru walaupun berusia 23 tahun, dijaga di istananya dan tidak diizinkan untuk menemui seorangpun. Perasaan saling memusuhi sama berlangsung sampai gubernur meninggal pada tahun 355 H / 966 M. Untuk beberapa waktu Mesir tinggal tanpa pemerintahan yang tetap / teratur, seluruh kekuasaan terserah kepada Kafur, yang ketika ia dinasehati untuk memproklamirkan anak Ali, menjawab bahwa anak yang masih sangat muda tidak cocok untuk menguasai pemerintahan.
3. Kemunduran dinasti Ikhsyidiyah
Pada tanggal 4 Muharram 355 H, kira-kira satu bulan setelah Ali meninggal dunia. Kafur memperlihatkan mantel panjang kehormatan dikirim dari Baghdad dan Chapter / piagam mengangkatnya sebagai gubernur dengan gelar “Uztadz”. Pada tanggal 10 Shafar di tahun yang sama dia mulai memakai mantel kehormatan di depan umum.
Selama periode ini Mesir menderita / menahan kesengsaraan yang sangat dalam. Mesir buruk (bencana) yang paling dahsyat ialah bahwa sungai Nil sangat rendah dan kekurangan air dan penyakit pes menyebabkan kematian beribu-ribu penduduk. Ialah suatu kemungkinan yang sangat kecil untuk mengubur mereka dan mayat-mayat mereka harus dibuang ke sungai Nil. Sebagian keperluan-keperluan untuk kehidupan tidak bisa dipertahankan, jagung sangat sulit untuk di dapatkan dan pertanian-pertanian dirampas.
Untuk menambah duka cita negeri ini, Kafur sudah tidak bisa untuk menghalangi-halanginya Qarmatians yang mengadakan penyerangan ke Syiria pada tahun 352 H / 963 M, penangkapan atau perampasan terhadap kafilah haji orang-orang Mesir dalam perjalanan mereka menuju Makkah pada tahun 355 H / 965-966 M, dia juga tidak bisa mempertahankan negara dari orang-orang Nubia yang merampas daerah-daerah di wilayah selatan. Lebih lagi pembayaran terhadap pasukan pengawal Kafur diturunkan tunjangan-tunjangan / hadiah biasa mereka dalam tunggakan. Dan mereka penyebab terjadinya pemberontakan.
Keadaan atau kondisi Mesir yang semacam inilah menyebabkan kematian Kafur pada tahun 358 M. Saudara Ikhsyid bertanggung jawab atas kekuasaan yang agung. Pemerintah / kekuasan Ikhsyidiyah atau paling tidak kekuasaan nominal mereka berlangsung selama lima bulan tidak beraturan dan negara tidak bisa mempersembahkan pertahanan yang efektif terhadap serangan yang dilancarkan oleh khalifah Fatimiyah di Afrika Utara.

Makalah di atas belum lengkap, silahkan download lengkapnya...
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan titip komentar anda..