09 November, 2007

Invasi Bangsa Mongol

A. Asal Mula Bangsa Mongol
Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan yang mempunyai dua putera kembar, Tartar dan Mongol. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari.
Dalam rentang waktu yang sangat panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain, menggembala kambing dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional dengan mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumnya bangsa nomad, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani meng-hadang maut dalam mencapai keinginannya. Akan tetapi, mereka sangat patuh kepada pemimpinnya.
Bangsa Mongol tidak memeluk salah satu dari ketiga agama Samawi, padahal mereka hidup dan bergaul dengan pengikut agama Yahudi, Kristen dan Islam. Mereka menyembah matahari dan bersujud kepadanya ketika terbit. Syari’at mereka tidak mengharamkan apapun kepada mereka dan mereka makan hewan apa saja yang ditemuinya meski sudah menjadi bangkai.
Bangsa Mongol mencapai kemajuan secara besar-besaran pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan. Ia berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada waktu itu. Setelah Yasugi meninggal, putranya, Timujin yang masih berusia 13 tahun tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun, ia berusaha memperkuat angkatan perangnya dengan menyatukan bangsa Mongol dengan suku bangsa lain sehingga menjadi satu pasukan yang teratur dan tangguh. Pada 1206 M ia mendapat gelar “Jengis Khan”, Raja Yang Perkasa. Untuk mengatur rakyatnya, ia menetapkan suatu undang-undang yang terangkum dalam sebuah kitab yang disebut “Ilyasa”.
Dari sekian hukum yang termuat dalam kitab tersebut, pem-bunuhan merupakan satu-satunya sangsi bagi yang melanggar (seolah-olah tidak ada sangsi hukum lainnya). Hal itu menjadi bukti kehausan Jengis Khan dan hobinya melihat darah mengalir di depan mata dan di bawah telapak kakinya. Kesimpulan ini dikuatkan dengan pembunuhan besar-besaran dalam perang melawan musuh-musuhnya. Ahli sejarah mensinyalir bahwa Jengis Khan pernah membunuh tujuh ratus ribu jiwa hanya dalam tempo satu hari.

B.Permulaan Perang Melawan Kaum Muslimin

Bangsa Mongol tergolong bangsa yang pemberani dan tegar dalam peperangan. Perang melawan kaum muslimin bermula dari kasus pembunuhan delegasi para pengusaha yang dikirim oleh Jengis Khan pada 616 H/1219 M. Delegasi para pengusaha itu dikirim ke negara Khawarizm Syah Muhammad untuk membeli baju produk negara Khawarizm Syah Muhammad dengan membawa harta yang banyak. Melihat kenyataan itu, wakil Khawarizm Syah Muhammad kemudian mengirim surat kepada rajanya (Khawarizm Syah Muhammad) yang sepertinya ia merayu sang raja untuk merampas harta tersebut. Raja Khawarizm Syah Muhammad terbujuk oleh surat wakilnya lalu berambisi untuk mendapatkan harta tersebut. Sang raja lalu memerintahkan wakilnya untuk membunuh seluruh delegasi pengusaha itu dan merampas hartanya. Perintah tersebut dilaksanakan oleh wakilnya. Peristiwa itu terdengar oleh Jengis Khan lalu ia mengirim wakil untuk menemui Khawarizm Syah Muhammad dengan membawa surat.
Surat Jengis Khan tersebut tidak digubris oleh Khawarizm Syah, ia malah bertindak lebih konyol. Ia memerintahkan agar utusan Jengis Khan itu dipenggal kepalanya. Kesalahan fatal yang dilakukan raja Khawarizm Syah itu mengakibatkan penderitaan bagi kaum muslimin, sebab kesalahannya tidak hanya seperti itu, ia ternyata menyiapkan pasukan kemudian menyerang negara Jengis Khan yang ketika itu sedang sibuk berperang melawan negara tetangga (Kasyla Khan). Khawarizm Syah merampas kekayaan negara Jengis Khan, menawan kaum wanita dan anak-anak. Tindakan konyol Khawarizm Syah itu memancing emosi bangsa Mongol. Jengis Khan tidak tinggal diam. ia menyiapkan pasukan gagah berani kemudian menyeberang sungai Jihun dengan tujuan Khawarizm. Kedua pasukan bertemu dan perang sengit pun meledak yang berlangsung maraton selama empat hari. Akibatnya, korban berjatuhan dari kedua belah pihak hingga kuda ter-gelincir di lautan darah para korban. Jumlah korban kaum muslimin kurang lebih dua puluh ribu jiwa dan korban dari pihak Mongol lebih besar beberapa kali lipat dari jumlah korban kaum muslimin.

C. Invasi Mongol Terhadap Negeri-negeri Islam
Setelah pasukan Mongol terlibat terlibat pertempuran sengit dengan kaum Muslimin selama empat hari, kedua belah pihak memilih mundur. Khawarizm Syah bertolak menuju Bukhara dan Samarkand lalu membangun benteng pertahanan di dalamnya dan dijaga oleh pasukan dalam jumlah besar yang mencapai dua puluh ribu personil. Setelah itu, Khawarizm Syah kembali ke negerinya (Iran) untuk menyiapkan pasukan lain dalam rangka menghadapi pasukan Mongol.
Sementara itu, Jengis Khan juga telah siap dengan tentaranya yang kemudian bertolak menuju Bukhara. Warga Bukhara terdesak dengan pengepungan pasukan itu lalu meminta jaminan keamanan kepada Jengis Khan. Jengis Khan bersedia memberikan jaminan keamanan kepada mereka, kemudian ia dan pasukannya memasuki Bukhara. Namun, jaminan keamanan yang ia janjikan hanya tipuan belaka. Langkah pasukan Jengis Khan untuk menerobos jauh ke dalam kota terhadang oleh benteng petahanan yang telah dibangun oleh Khawarizm Syah. Mereka mengepung dengan ketat benteng tersebut dengan menyertakan warga kota Bukhara untuk menghancurkan parit yang melindungi kota Bukhara. Pasukan itu melemparkan mimbar-mimbar masjid, al-Qur’an dan buku-buku ke dalam parit agar bisa menyeberang ke benteng pertahanan tersebut. Setelah dikepung selama sepuluh hari berturut-turut, benteng itupun jebol. Pasukan Mongol membunuh semua orang yang ada di Bukhara, menawan para wanita dan anak-anak, dan memperkosa para wanita di depan keluarganya. Di antara mereka ada yang melawan untuk mempertahankan istrinya hingga terbunuh dan ada pula yang menjadi tawanan perang kemudian disiksa dengan bebagai macam bentuk penyiksaan. Perumahan, masjid dan sekolah dibakar hingga ludes.
Dari Bukhara, Jengis Khan berjalan menuju Samarkand yang dijaga oleh lima puluh ribu personil pasukan Islam. Kekalahan pasukan Islam di Bukhara meruntuhkan semangat tempur pasukan Islam di Samarkand hingga akhirnya mereka tidak mampu menghadang gerak laju pasukan Mongol. Kaum Muslimin di Samarkand mendapatkan tambahan pasukan yang berkekuatan tujuh puluh ribu personil yang terdiri dari rakyat sipil. Jumlah pasukan yang banyak tersebut juga behasil dikalahkan pasukan Mongol. Kekalahan tersebut sangat wajar karena mereka tidak terlatih dan tidak mempunyai persenjataan yang memadai untuk meng-hadapi pasukan setangguh pasukan Mongol. Pasukan Mongol menawan, merampas dan merampok semua senjata mereka dan apa saja yang dapat mereka gunakan untuk membela harga diri dan tanah airnya, lalu mereka dibunuh. Itulah kebiasaan pasukan Mongol ketika berhasil menaklukkan suatu negeri.
Kekalahan beruntun pasukan Islam didengar oleh Khawarizm Syah, lalu ia berlari ke wilayah sekitar sungai Jihun. Ia berusaha menyusun kembali pasukannya untuk menantang pasukan Mongol dan melindungi wilayahnya. Jengis Khan bukanlah orang bodoh, ia mengirim pasukan rahasia yang berkekuatan dua puluh ribu personil untuk mencari Khawarizm Syah. Ia berkata kepada mereka: “Carilah Khawarizm Syah, kejar dia meskipun bergantung di langit!”. Pasukan rahasia tersebut kemudian melacak Khawarizm Syah dan berhasil menemukan tempat persembunyiannya, namun mereka terhalang oleh sungai dan tidak mendapatkan perahu untuk menyeberangi sungai tersebut. Mereka tidak kehabisan akal. Mereka kemudian membuat kotak dan memenuhinya dengan seluruh senjatanya. Setiap orang dari mereka melepaskan kudanya ke sungai dan ia memegang ekor kudanya itu dengan salah satu tangannya dan tangan yang satunya lagi memegang kotak yang berisi senjata. Begitulah kuda-kuda mereka menyeberangi sungai dan mereka berada di belakang kuda-kuda terebut.
Mengetahui bahwa pasukan Mongol memburunya, Khawarizm syah kaget. Ia berlari ke Naisabur dan pasukan itu terus memburunya. Setiap kali ia berlari ke suatu tempat dan berusaha menyusun kekuatan, pasti diketahui pasukan Mongol. Ia terus berlari sementara pasukan Mongol sendiri tidak henti-henti mengejarnya hingga ia menyeberangi laut Tibristan. Ia memanjat benteng pertahanan pulau tersebut dan di tempat itulah ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah berhasil menaklukkan Samarkand dengan mudah, Jengis Khan mendirikan kemah dan bermarkaz di sana. Dari kemah tesebut, ia mengirim pasukan ke Khurasan, Ray dan berbagai penjuru lainnya. Pasukan Jengis Khan kemudian berhasil memasuki kota Ray tanpa sepengetahuan warganya. Mereka membunuh warga kota itu, merampok dan menawan warga yang masih hidup. Dari Ray, mereka bertolak menuju kota Hamdan kemudian Qazwin. Di sana pasukan Jengis Khan merampok kekayaan warga Qazwin serta membantai mereka yang jumlahnya kurang lebih empat puluh ribu jiwa. Dari Qazwin, pasukan Mongol menuju Azerbaijan yang ketika itu diperintah oleh Azbek bin Bahlawan. Jauh-jauh hari sebelumnya, Azbek siap berdamai dengan pasukan Mongol. Ia menemui mereka dengan membawa upeti dan hadiah-hadiah lainnya dan pasukan Mongol menerima upeti itu. Dari Azerbaijan mereka menuju Mauqan. Kedatangan mereka dihadang oleh warga Mauqan yang berkekuatan sekitar sepuluh ribu personil, namun mereka mampu bertahan hanya sekejap mata. Pasukan Mongol kemudian menuju Tibriz. Di sana mereka berdamai dengan warga kota Tibriz dengan kompensasi warga Tibriz menyerahkan sejumlah uang.
Memasuki tahun 617 H/1220 M pasukan Mongol berhasil menguasai seluruh kerajaan Islam kecuali Mesir, Syam, AL-Jazair dan Irak. Mereka menghancurkan setiap ras yang mencoba menghadang gerak lajunya. Mereka bantai kaum muslimin dan non muslim di wilayah yang mereka taklukkan dalam jumlah yang tak terduga. Ibnu Katsir berkata – sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Sayyid al-Wakil – bahwa bisa dikatakan setiap kali mereka memasuki suatu negeri, mereka pasti membunuh siapa saja yang mereka temui tidak terkecuali tentara, rakyat sipil, wanita dan anak-anak. Mereka merusak dan membakar apa saja yang ada di negeri tersebut. Bahkan dikisahkan bahwa mereka mengumpulkan sutra yang sangat banyak hingga mereka tidak sanggup mengangkutnya kemudian mereka membakarnya. Mereka menonton adegan pembakaran itu dengan terkekeh-kekeh. Rumah-rumah juga mereka sama ratakan dengan tanah. Apa saja yang tidak mampu mereka hancurkan, maka mereka bakar hingga ludes. Yang banyak mereka bakar adalah masjid dan sekolah. Mereka jadikan kaum muslimin sebagai tawanan perang dan berperang dengannya. Jika tawanan itu menolak perintahnya, mereka langsung membunuhnya.
Memasuki tahun 618 H/1221 M, pasukan Mongol memasuki negara Kurj dan menaklukkan negara Qabjan yang sebelumnya sempat meminta perlindungan Rusia yang menganut agama Kristen. Mereka kemudian bersepakat bekerjasama dalam menghadapi pasukan Mongol, lalu terjadilah perang. Namun, pasukan Mongol berhasil mengalahkan pasukan koalisi tersebut.
Pada tahun 620 H/1222 M, pasukan Mongol bermaksud menuju Bulgaria, kemudian kembali ke markaz rajanya, Jengis Khan. Sebelumnya, Jengis Khan mengirim ekspedisi yang lain ke Farghanan. Keduanya berhasil menguasai kedua negara tersebut. Jengis Khan juga menyiapkan pasukan dan mengirimkannya ke Khurasan kemudian mengepung kota Balkh dan berdamai dengan penduduknya. Selain itu, mereka juga mengepung negara-negara yang lain hingga tiba di Thalqan, namun mereka gagal menaklukkannya. Kegagalan mereka itu dilaporkan kepada Jengis Khan. Jengis Khan kemudian datang langsung ke lokasi dan mengepung-nya selama empat bulan. Mereka akhirnya berhasil menguasai Thalqan secara paksa serta membunuh seluruh penduduknya.
Pada tahun 624 H/1227 Jengis Khan berhasil menguasai Asia Utara dari timur dan barat dalam jangka waktu tujuh tahun. Kemenangan-kemenangannya meruntuhkan sendi-sendi kehidupan negara yang ia serang. Hampir tidak ada satu negara, kota ataupun perkampungan yang selamat dari kekejamannya. Jengis Khan hidup relatif lama. Ia lahir pada tahun 509 H/1115 M dan menjadi raja pada tahun 599 H/1202 M dalam usia 90 tahun. Invasinya ke wilayah-wilayah Islam berlangsung dari tahun 616 H/1219 M hingga tahun 624 H/1227 M. Ia meninggal dunia pada tahun itu juga dalam usia 112 tahun.
Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jengis Khan membagi wilayah kekuasaannya menjai empat bagian kepada empat orang putranya, yaitu Juchi, chagatai, Ogotai dan Tuli. Chagatai berusaha menguasai kembali daerah-daerah Islam yang pernah ditaklukkan dan berhasil merebut Ferghana, Ray dan Azerbaijan. Sementara Tuli menguasai Khurasan. Karena kerajaan-kerajaan Islam sudah terpecah-belah dan kekuatannya ssudah lemah, Tuli dengan mudah dapat menguasai Irak. Ia meninggal tahun 654 H/1256 M dan digantikan oleh putranya Hulagu Khan.
Ketika Hulagu Khan resmi berkuasa, ia berambisi menggabung-kan Baghdad, markaz negara Islam ke dalam pemerintahannya. Keinginan-nya itu kemudian tercapai tatkala Ibnu Alqami, perdana menteri dari aliran Syi’ah Rafadh berkompromi dengan pasukan Mongol. Sikap Ibnu Alqami itu didasari oleh ambisinya untuk merampas tahta khilafah dari tangan Bani Abbasiyah – lalu menyerahkan kepada dinasti Fatimiyah – dan kesempatan emas untuk tujuan itu bisa ia dapatkan pada saat pasukan Mongol menyerbu wilayah Islam. Karena itu, ia aktif mengadakan kontak dan korespondensi dengan pasukan Mongol dan mendukung mereka menyerang Baghdad.
D. Penyerbuan dan Penaklukan Baghdad
Perdana menteri Rafadh – Ibnu Alqami – berhasil merayu pasukan Mongol untuk menyerang Baghdad. Ia sarankan khalifah Mu’tashim mengirim hadiah-hadiah yang berharga kepada Hulagu Khan agar ia membatalkan rencananya menyerbu Baghdad. Beberapa pembantu dekat khalifah Mu’tashim mengusulkan agar hadiah-hadiah tersebut tidak perlu mewah dan tidak perlu berlebih-lebihan dalam menanggapi ancaman Hulagu Khan.
Khalifah Mu’tashim sependapat dengan usulan tersebut, kemudian ia mengirim hadiah-hadiah yang tidak ada harganya dalam pandangan Hulagu Khan. Nampaknya Ibnu Alqami telah menginformasi-kan kepada Hulagu Khan perdebatan antara khalifah Mu’tashim dengan pembantu dekatnya. Lalu Hulagu Khan berkirim surat kepada khalifah Mu’tashim yang isinya meminta khalifah Mu’tashim mengirimkan pembantu dekatnya yang mengusulkan pemberian hadiah yang murahan tersebut. Khalifah Mu’tashim tidak membalas surat Hulagu Khan dan tidak menanggapinya dengan serius. Ini menambah kegaraman Hulagu Khan terhadap khalifah Mu’tashim dan kaum muslimin.
Pada tanggal 2 Januari 1258 M Hulagu Khan mengirimkan passukan ke Baghdad di bawah pimpinan dua amirnya sebagai pasukan awal sebelum kedatangannya. Tiba ke daerah perbatasan kota Baghdad, di sini mereka dibantu oleh pasukan Mongol dari Asia Kecil. Dengan menggunakan kelompok-kelompok tawanan, bangsa Mongol itu segera mengepung kota dan segera menghujani dengan peluru-peluru batu, panah dan sebagainya. Pada tanggal 30 Januari serangan ditingkatkan dan beberapa hari kemudian pertahanan kota Baghdad hancur. Wazir Ibnu al-Alqami dengan ditemani oleh seorang Katolik Nestorian menawarkan untuk berunding, tetapi Hulagu tidak bersedia menerima mereka.
Pada tanggal 10 Pebruari 1258 M khalifah al-Mu’tashim bertemu dengan Hulagu Khan, ia diperintahkan untuk menginstruksikan seluruh penduduk kota Baghdad berkumpul bersama tentaranya di luar kota. Di sini mereka dibunuh tanpa mengenal belas kasihan dan tidak membedakan umur dan jenis kelamin. Pada 13 Pebruari 1258 M bangsa Mongol memasuki kota Baghdad dan membumihanguskannya. Menurut catatan, 800.000 ribu orang terbunuh termasuk khalifah sendiri yang meninggal di bawah telapak kaki kuda-kuda bangsa mongol itu. Akibatnya air ber-campur darah mengalir ke lorong-lorong kota. Untuk 500 tahun lamanya Baghdad telah dibangun sebagai suatu kota yang penuh dengan istana yang megah dan masjid yang agung, demikian pula rumah sakit yang tidak kalah dengan rumah sakit zaman modern. Semua itu lenyap dalam waktu yang sangat singkat.
Sementara itu, akibat pembunuhan massal, Baghdad tak ubahnya seperti timbunan mayat. Timbunan mayat itu kemudian diguyur hujan dari langit sehingga warnanya berubah dan mengeluarkan bau busuk ke seantero kota Baghdad. Akibatnya, timbul wabah penyakit yang menyebar ke mana-mana karena tiupan angin sampai ke negara Syam.


D. Pengaruh Penyerbuan dan Penaklukan Bangsa Mongol
Jatuhnya Kota Baghdad ke tangan Mongol bukan saja menandai berakhirnya khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan berupa buku-buku yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol. Semua aktifitas masjid, organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga ke-ilmuan berhenti dengan sendirinya akibat penyerbuan tersebut.
Penaklukan Baghdad sangat menyedihkan bagi umat Islam sedunia, sebab kehancuran politik Baghdad sama dengan hancurnya politik Islam kala itu, dan apalagi pengaruhnya di bidang lain sangatlah besar, yaitu psikis, pendidikan, ekonomi dan perkembangan kebudayaan Islam.
Namun, di samping dikejutkan oleh bencana yang dibawa bangsa Mongol, umat Islam yang dikalahkan ternyata mengagumi para pemimpin Mongol. Struktur politik mereka yang dikelola dengan baik mampu bertahan dalam jangka panjang dan sangat mempengaruhi kerajaan-kerajaan Muslim pada masa sesudahnya.

Download selengkapnya dalam file ms.word...
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan titip komentar anda..