28 November, 2007

Kerajaan Islam di Sulawesi-Selatan

Berdirinya Kerajaan Islam di Sulawesi Selatan.
Sumber-sumber sejarah mengungkapkan bahwa masuKnya Islam di Sulawesi adalah dibawa oleh saudagar dan ulama dari Arab dan Melayu dan tiga orang dari Sumatera yang sangat berperan mengislamkan sulawesi. Mereka pertama kali mengislamkan raja Makassar (raja Tallo dan Gowa) sehingga secara formal agama Islam diterima pada tahun 1603 atau pada awal abad 17 M. ketiga ulama itu adalah:
1.Abdul Makmur Khatib Tunggal yang dikenal dengan gelar "Datuk Ribandang"
2.Khatib Sulung Sulaiman dengan gelar "Datuk Ripattimang"
3.Maula Abdul Jawad Khatib Bungsu yang bergelar "Datuk Ritiro"
Ketiga datuk tersebut dikenal ulama atau muballigh yang sangat berjasa dan gigih mengembangkan agama Islam di Sulawesi. Dari perkembangan Islam tersebut, maka pada awal 17 ini juga yakni tahun 1036 H/1626 M. lahir seorang ulama terkenal dari suku Makassar yaitu Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Peranan keempat ulama tersebut tampak sangat besar dalam proses islamisasi atau prnyebaran Islam di daratan Sulawesi, terutama di Sulawesi Selatan, karena di waktu yang singkat diawal abad XVII. Masyarakat dapat menerima ajaran Islam dengan baik dan ikhlas dan tanpa kekerasan, sebab metode yang ditempuh oleh mereka adalah metode pendekatan.

Baik di Indonesia maupun di Sulawesi-Selatan, semua sumber mengakui bahwa ajaran Islam dibawa atau disebarkan pertama kali adalah saudagar-saudagar Islam yang datang dari negara Arab, Iran, Persia dan India maupun saudagar Muslim dari Melayu.
Dengan penjelasan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perkembangan Islam di Sulawesi Selatan dimulai dari daerah-daerah pantai atau pelabuhan, maka dapat dipahami bahwa transportasi lautlah yang sangat dominan dalam penyebaran Islam di Sulawesi-Selatan.

KERAJAAN ISLAM DI SULAWESI-SELATAN
Kerajaan di Sulawesi-Selatan berdiri pada abad ke-15 di mana Islam masuk ke Sulawesi dibawa oleh saudagar dari Timur Tengah. Kerajaan-kerajaan tersebut, di antaranya adalah:
A. Dari Suku Bangsa Makassar yaitu Gowa dan Tallo
Kerajaan Gowa semula terdiri dari sembilan kerajaan kecil yaitu Tombolo, Lakiung, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Saumat, Bissei, Sero dan Kalli. Ketika Gowa diperintah Tomapparisi-Kollonna, Gowa disatukan dengan kerajaan Tallo yang pada saat itu diperintah oleh Tuna Pasuruk pada pertengahan abad ke-15. di mana kedua kerajaan ini saling melengkapi kelebihan masing-masing untuk membesarkan kerajaan. Gowa memeberikan handil dengan kehebatan militernya, sedangkan Tallo memberikan sumbangsi penguasaan administrasi pemerintahan dan kemampuan berhubungan dengan pedagang-pedagang asing. Kedua kerajaan kembar itu memilih Somba Upu sebagai ibu kotanya.
Kerajaan Gowa-Tallo kemudian melancarkan ekspansinya ke wilayah sekitarnya. Akibat ekspansi itu, Kerajaan Siang, Bone, Suppa, Sawitto dan lain-lain dapat ditaklukkan. Namun kerajaan Bone bangkit kembali menentang kekuasaan Gowa-Tallo, kemudian pada Tahun 1528 membuat persekutuan bersama kerajaan (tiga kekuasaan) Wajo, Soppeng dengan nama “Tallumpocco” yang diikrarkan di Desa Bone dengan tujuan untuk menghadang perluasan kekuasaan yang dilakukan kerajaan Gowa-Tallo.
Sejak abad ke-16. para pedagang muslim telah berdatangan ke Sulawesi-Selatan dan beberapa ulama dari Sumatera Barat seperti Datok Ribandang, Datok Sulaiman dan Datok Ritiro, tiba juga di Sulawesi Selatan menyebarkan agama Islam. Akhirnya pada tahun 1605 penguasa kerajaan Gowa-Tallo memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam, Daeng Marabbia (raja Gowa) mendapat grlar Sultan Alauddin, sedangkan karaeng matoanya (raja Tallo) mendapat gelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Kemudian dalam perkembangan berikutnaya, kesultanan Gowa-Tallo berusaha menyebarkan Islam ke kerajaan lain.

Upaya kesultanan Gowa-Tallo ternyata ditentang oleh Tellumpocco, persekutuan ini berusaha menentang cita-cita Gowa-Tallo untuk meluaskan pengaruh Islam. Namun pada akhirnya kerajaan-kerajaan suku Bugis itu, ikut menganut agama Islam. Di mana Soppeng tunduk pada tahun 1609. Wajo pada tahun 1610, dan Bone pada tahun 1611. Walaupun ketiga kerajaan tersebut telah dikalahkan, namun kesultanan Gowa-Tallo memberikan keleluasan kepada mereka untuk mempertahankan keberadaan persekutuan tellumpocco.

B. Dari Suku Bangsa Bugis yaitu Bone, Soppeng, Wajo dan Luwu
Penyebaran Islam berlangsung ke kerajaan Bone, Soppeng, Wajo dan Luwu sesuai dengan tradisi yang sudah lama telah diterima oleh para raja yaitu mengharuskan seorang raja memberitahukan “hal baik” kepada yang lain. Oleh karena itu, kerajaan Gowa-Tallo menyampaikan “pesan Islam” ke kerajaan lain seperti Luwu sebagai kerajaan yang tertua dengan raja pertamanya yang masuk Islam yaitu raja Luwu ke-XV, Datu Patiware pada tahun 1603, kemudian Wajo pada tahu 1610 (Arung Matoa Lasangkuru Mulajaji), Soppeng pada tahun 1609, dan Bone pada tahun 1611.
Dalam perebutan hegemoni antara Tellumpocco (tiga kerajaan) denga Gowa-Tallo Islam, kemudian melalui peperangan di mana Bone merupakan saingan politik Gowa-Tallo sejak pertengahan abad ke-16, tanggal 23 Nopember 1611, dan raja Bone yang pertama masuk Islam, dikenal dengan gelar Sultan Adam.

C. Masa Puncak Kejayaan
Setelah mengalahkan Telumpocco, kesultanan Gowa-Tallo (kesultanan Makassar) memperoleh kemajuan yang sangat pesat, terutama di bidang perdagangan, disebabkan oleh:
1.Banyaknya pedagang hijrah ke Makassar setelah Malaka jatuh ke tangan bangsa Potugis tahun 1511.
2.Orang-orang Bugis dan Makassar terkenal dengan pelaut ulung yang dapat mengamankan wilyah lautnya.
3.Tersediahnya rempah-rempah yang banyak didatangkan dari Maluku.

Kesultanan Makassar juga memiliki letak yang strategis di jalur lalulintas Malaka ke Maluku untuk menjamin dan mengatur perdagangan dan pelayaran di wilayahnya.
Kerajaan Makassar mencapai puncak kejayaan pada masa kesultanan Muhammad Said (1639-1653) dan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Kedua raja ini, membawa Makassar sebagai daerah dagang yang maju pesat. Selanjutnya Makassar telah mencapai ke pulau Solor di Nusantara Tenggara.

D. Masa Kemunduran
Kemunduran yang dialami oleh kerajaan Islam di Sulawesi, terjadi karena melemahnya kepemimpinan Sultan Alauddin dan dalam peperangan melawan VOC, Makassar mengalami kekalahan dan kemudian mengadakan gencatan senjata pada tanggal 6 Nopember 1667.

Download lengkapnya makalah ini...


Artikel Terkait:

Reactions:

0 comments :

Poskan Komentar

Silahkan titip komentar anda..

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons