15 Desember, 2007

Dinasti Mughal di India (Asal-Usul, Kemajuan dan Kehancuran)

Asal Usul Kerajaan Mughal
Berdasarkan informasi sejarah, serangan pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu membawa dampak jatuhnya kota Bagdad (1258) ditandai dengaan berakhirnya kekhalifahan Abbasiyah. Di samping itu, telah terbukti memporak-porandakan integritas kaum muslimin dan memprovokasikan timbulnya pertikaian dan permusuhan. Lebih dari sekedar itu, beberapa warisan budaya dan peradaban yang merupakan warisan umat Islam menjadi hancur dan lenyap.
Kerajaan Mughal merupakan kerajaan yang menarik untuk dikaji karena kerajaan ini berdiri di tengah-tengah penduduk yang mayoritas umut Hindu. Di samping itu, sampai saat ini masih dapat disaksikan berbagai peninggalan berupa warisan budaya dan peradaban yang sangat besar.
Terjadinya ekspansi Islam ke India yang menurut sejarahwan telah dimulai sejak Umar bin Khatab. Seterusnya pada masa pemerintahan Islam seperti khalifah Walid Ibn Abd al-Malik dari Bani Umayyah di India.
Yang mendirikan kerajaan Mughal di India adalah Zahir al-Din Babur (1428-1530 M). Ia adalah salah seorang keturunan Timur Lenk. Ayahnya Umar Mirza adalah seorang penguasa di Asia Tengah. Sementara ibunya merupakan keturunan Jengis Khan. Sepeninggal ayahnya, Babur yang berusia 11 tahun mewarisi tahta kekuasaan wilayah Farghana. Ia bercita-cita menguasai Samarkand yang merupakan kota terpenting di Asia Tengah pada saat itu. Pertama kali ia gagal mewujudkan cita-citanya. Berkat bantuan dari Ismail I, raja Safawi, ia meraih keberhasilan menaklukkan kota Samarkand pada tahun 1494. kemudian pada tahun 1504 ia berhasil menaklukkan Kabul, ibukota Afganistan. Dari Kabul inilah mengadakan ekspansi ke India yang diperintah oleh Ibrahim Lodi. Dinasti Lodi ketika itu sedang mengalami krisis dan mulai melemah pertahannya sehingga inilah kesempatan yang dimanfaatkan oleh Babur untuk menumbangkannya. Dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk menguasai India, pada tahun 1525, Babur berhasil menaklukkan Punjab. Perjalanan Babur kemudian berhasil memperoleh kemenangan sehingga pasukannya memasuki kota Delhi maka berdirilah kerajaan Mughal di India pada tahun 1526 M.

Kemajuan Kerajaan Mughal
Pihak-pihak musuh, yang tidak menyukai berdirinya kerajaan Mughal, utamanya dari kalangan Hindu, segera menyusun strategi kekuatan gabungan. Hal tersebut ditanggapi serius oleh Babur dan akhirnya dalam suatu pertempuran ia berhasil mengalahkan dinasti Lodi. Dinasti Lodi berusaha untuk bangkit kembali di bawah pimpinan Muhammad Lodi dan menentang pemerintah Babur. Babur kemudian dalam suatu pertempuran di dekat Gogra berhasil melumpuhkan Lodi pada tahun 1529. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1530, Babur meninggal dunia. Ketika itu ia berusia 48 tahun dan telah memerintah selama 30 tahun.
Sepeninggal Babur, tahta kerajaan Mughal diteruskan oleh Humayun, Humayun tetap mendapat tantangan. Ia berhasil mengalahkan pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang bermaksud melepaskan diri dari Delhi. Humayun mengalami kekalahan dalam peperangan yang dilancarrkan oleh Sher Khan dari Afganistan pada tahun 1450. ia melarikan diri atau mengadakan pengasingan ke Persia. Dalam pengasingannya, ia menyusun kekuatan, ketika itu Persia dipimpin oleh penguasa Syafawiyah yang beernama Tahmasp. Dalam tempo 15 tahun menyusun dan memantapkan kekuatannya, maka pada tahun 1555, ia berhasil menegakkan kembali kekuasaan Mughal di Delhi dengan mengalahkan kekuatan Khan Syah. Selang waktu satu tahun, kemudian ia meninggal.
Sepeninggal Humayun, tahta kerajaan Mughal dijabat oleh putranya yang bernama Akbar (1556-1603 M). Ketika itu, Akbar berusia 14 tahun. Dengan usia muda seperti itu, secara mental-psikologis Akbar belum matang. Oleh karena itu, yang menjalankan roda pemerintahan adalah Bairam Khan, seorang penganut syi’ah. Awal periode ini ditandai dengan munculnya berbagai pemberontakan. Khan Syah yang menggalang sisa kekuatannya di Punjab melancarkan pemberontakan. Kompleksitas masalah yang dihadapi Akbar, menjadi ancaman bagi kekuasaannya. Di Agra timbul kekuatan Hindu yang dipimpin oleh Hemu. Ia berhasil merebut Agra dan Delhi dari kekuasaan Mughal. Sementara di wilayah Barat Laut timbul gerakan yang dipimpin oleh Mirza Muhammad Hakim saudara seayah Akbar. Kasmir juga berusaha memerdekakan diri di bawah pimpinan muslim setempat. Kota-kota besar seperti Multan, Sind, Bengala, Gujarat, Bijapur, dan kota-kota lainnya hampir melepaskan diri dari kekuasaan imperium Mughal yang berpusat di Delhi.
Pada tahun 1556, pecah pertempuran antara Hemu dan Bairan Khan. Pasukan Bairan Khan berhasil memenangkan peperangan sehingga ia menguasai secara penuh wilayah Agra dan Gwalior. Dengan demikian, supremasi Mughal di berbagai daerah yang pernah hilang pada masa Humayun kembali pulih. Akbar juga telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Gwaliar, Ajmer, daan Jaunpur.
Ada berbagai keberhasilan yang diraih Akbar setelah dewasa, yakni berhasil memadamkan pertempuran di Jullanddur tahun 1561 M. Selanjutnya ia berhasil memerdekakan beberapa daerah. Keberhasilan lain yang pernah diraih Akbar dengan sistem militeristik yang ditandai dengan berdirinya Mughal sebagai kerajaan besar. Dengan sistem pemerintahan militeristik ia membangun kekuatan dengan mewajibkan pejabat sipil mengikuti latihan militer.
Dalam menghadapi heterogenitas agama dan paham, Akbar selanjutnya menempuh kebijakan politik Sulakhul (toleransi universal). Politik ini mengandung makna tersendiri, yakni upaya mempersamakan semua rakyat India dalam kedudukannya. Lebih dari itu, Akbar mempunyai ide liberal menciptakan satu agama baru yang disebut Din Ilahi. Secara umum ide politik ini berhasil. Kemajuan-kemajuan ini, diwarisi kepada tiga sultan setelahnya, yaitu Jahangir (1605-1627 M), Syah Jehan (1628-1658 M), dan Auranzeb (1659-1707 M). Ketiga raja ini merupakan raja yang kuat bersama kekuatan militer.
Pada era pemerintahan Syah Jehan, kaum Portugis yang bermukim di Hugli Bengala menarik pajak besar dari para pedagang lokal. Selain itu, ada dugaan mereka mengadakan Kristenisasi di kalangan anak-anak. Pada tahun 1632, Syah Jihan mengeluarkan instruksi pengepungan wilayah ini dan mengusir orang-orang Portugis keluar dari Bengala.
Setelah Syah Jihan pada tahun 1658, maka terjadi perebutan tahta kerajaan di kalangan istana. Murad menobatkan diri sebagai raja di Ahmamad. Sementara di Bengala Shuja yang mengklaim sebagai raja. Shuja memasuki pusat pemerintahan di Delhi. Pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Auranzeb berhasil mengalahkannya dalam peperangan di Bahadurpur,dekat Benares pada tahun 1658.
Setelah terjadi peperangan antara pasukan Auranzeb dan pasukan Murad dan Auranzeb mengalahkan saingannya, maka secara resmi Auranzeb dinobatkan sebagai raja Mughal pada bulan Mei 1959 dengan gelar Abu Muzaffar Muhyiddin Muhammad Auranzeb Alamgir Padshah Ghazi. Setelah itu, maka Auranzeb memberantas tindak korupsi dan menegakkan supremasi hukum. Berikut, ia menerbitkan buku risalah hukum Islam Fattawa Alamgiri, ia meninggal pada tahun 1707 di Ahmadnagar.
Dengan stabilitas politik yang diciptakan Akbar, maka kondisi ini sangat kondusif bagi pencapaian kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan dan peradaban. Hanya saja ada satu catatan, bahwa ilmu pengetahuan ketika itu tidak sebanding dengan zaman sebelumnya. Yang lebih menonjol adalah kemajuan dalam bidang seni syair dan seni arsitektur. Sejumlah bangunan yang merupakan peninggalan Mughal yang sangat indah dan mengagumkan hingga sekarang masih nampak antara lain : Istana Fatpur Sikri di Sikri, Villa dan sejumlah mesjid indah yang merupakan bangunan Akbar, mesjid berlapiskan mutiara dan Tajmahal di Agra yang dibangun oleh Syah Jehan, mesjid Agung Delhi dan Istana di Lahore.

Kehancuran Kerajaan Mughal
Masa-masa kemajuan Mughal dicapai pada masa Akbar dan tiga raja sesudahnya. Fase sesudahnya lambat laun mengalami kemunduran yang ditandai dengan terjadinya suksesi kerajaan, terjadinya sejumlah pemberontakan kelompok saparitis Hindu.
Secara singkat proses dan sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughal dapat digambarkan. Ketika Bahadur Syah menggantikan kedudukan ayahnya, Auranzeb, lima tahun kemudian terjadi perebutan kekuasaan antar putra-putri Bahadur Syah. Jehandar dimenangkan dalam persaingan tersebut dan sekaligur dinobatkan sebagai raja Mughal oleh jenderal Zulfikar Khan, sementara Jehandar adalah putra Bahadur Syah yang paling lemah. Penobatan ini kemudian ditentang oleh Muhammad Fakhrukhsyiar keponakannya sendiri. Dalam suatu pertempuran, Muhammad Fakhrukhsyiar keluar sebagai pemenang. Pada tahun 1713, selanjutnya ia menduduki tahta kerajaan sampai 1719 M. Sang raja mati terbunuh oleh komplotan Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali. Keduanya kemudian mengangkat Muhammad Syah (1719-1748). Ia kemudian dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah.
Terjadinya perebutan kekuasaan juga mengakibatkan munculnya kecendrungan pemerintah daerah untul melepaskan loyalitas dan integritasnya dengan pemerintah pusat. Pada waktu Mughal dilanda krisis perebutan kekuasaan istana yakni antara tahun 1719-1748, orang-orang Hindu kembali melancarkan serangan. Kelompok Sikh di bawah pimpinan Banda, berhasil merebut kota Sadhaura di sebelah utara Delhi, dan merebut kota Sirhind. Golongan Maratha di bawah pimpinan Baji Rao berhasil merebut sebagai wilayah Gujarat 1723.

Download lengkapnya...
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan titip komentar anda..