23 Desember, 2007

USMANI MUDA (Gerakan Pembaharuan di Turki)

Asal-usul Usmani Muda dan Gerakannya
Usmani Muda adalah sebuah perkumpulan golongan cendekiawan kerajaan Usmani. Mereka banyak menentang kekuasaan absolut Sultan. Pada awalnya perkumpulan ini merupakan sebuah gerakan bawah tanah yang didirikan pada tahun 1865, yang bertujuan untuk mengubah pemerintahan absolut kerajaan Usmani menjadi pemerintahan yang berkonstitusi.
Setelah gerakan ini tercium dan diketahui aktivitasnya oleh pemerintah, maka sebahagian dari pemukanya berusaha melarikan diri dari Turki menuju Eropa. Disanalah gerakan ini mendapat gelar Usmani Muda. Sementara Niyazi Berjez salah seorang guru besar di Islamic Studies di Mc. Gill University (Canada) menyatakan bahwa gerakan ini menpunyai beberapa nama antara lain Muhafa-I Seriat (pembawa syariat) dan fedais atau pejuang.
Sikap otoriter yang digunakan Sultan dan para menterinya dalam melaksanakan pembaharuan yang dicetuskan oleh kaum pemikir Tanzimat mendapat kritikan-kritikan yang tajam. Apalagi Sultan Mahmud II sangat keras dalam tidakannya setelah kelompok Janissary dapat dipatahkan. Sebelumnya kelompok Janissary ini merupakan suatu kekuatan kontrol bagi kegiatan Sultan. Demikian pula penghancuran terekat Bektasyi yang didirikan oleh seorang suci Islam “Bektasyi Veli”.dan pengambilalihan dana dari tangan ulama membuat Sultan lebih berkuasa dalam bertindak dan berbuat.
Pemikiran yang dikemukakan oleh Usmani Muda mempunyai dampak positif bagi pembaruan setelah Tanzimat di Turki. Dalam usaha pemgembangan ide pembaruan dan kritikan-kritikan terhadap pemerintahan absolut, saluran media massa banyak dipergunakan. Tahun 1861, Ibrahim Sinasi Effendi mendirikan sebuah surat yang bernama “Tasrir-I Efkar” (gambaran pemikiran). Sebagai akibat penilaian pemerintah yang sangat tajam, ia terpaksa meninggalkan Turki pada tahun 1864. selanjutnya surat kabar tersebut dipimpin oleh Namik Kemal Pasya, namun beliau harus meninggalkan juga Turki.
Pada tahun 1867, Namik Kemal dan Ali Sunvi yang juga melarikan diri dari Turki juga menerbitkan sebuah surat kabar lain yang bernama Mukhbir (korespondensi) di Prancis. Akan tetapi, karena tekanan dari pihak pemerintah prancis atas desakan Turki, penerbitan surat kabar tersebut harus dihentikan. Selanjutnya surat kabar itu terbit di Inggris untuk jangka waktu beberapa bulan saja. Dalam waktu itu, Namik Kemal menerbitkan sebuah surat kabar yang bernama Hurriet (kemerdekaan) pada tahun 1868, surat kabar ini juga tidak bertahan lama.
Pada tahun 1871 Namik Kemal diizinkan kembali pulang ke Turki setelah penguasa yang ditentangnya (perdana menteri Ali Pasya) wafat. Kemudian beliau menerbitkan lagi sebuah harian yang berjudul Ibret (pelajaran), akan tetapi karena harian senantiasa berisikan kritikan-kritikan yang tajam terhadap penguasa hingga akibatnya juga bernasib sama dengan yang lalu yakni hanya berusia sekitar tiga tahun.
Para tokoh-tokoh Usmani Muda yang berangkat ke Eropa, di Inggris atau Prancis mereka sempat bergaul dengan tokoh-tokoh intelektual Eropa yang memiliki perhatian yang serius terhadap perkembangan Turki Usmani. Tokoh-tokoh intelektual Eropa seperti Leon Cahun dan Armenius bukan hanya bergaul dengan tokoh-tokoh Usmani Muda, akan tetapi mereka mampu mewarnai corak berfikirnya. Hingga tak mengherankan kalau mereka itu mengembangkan pemikiran-pemikiran yang cenderung bersifat liberal.

Tokoh-tokoh Usmani Muda Beserta Gagasan dan Corak Pemikirannya

Sebenarnya gagasan dan corak pemikiran para tokoh Usmani Muda itu sama yakni berupaya untuk merobah tatanan pemerintahan dari sistem absolutisme atau otokrasi menjadi suatu pemerintahan yang menerapkan sistem demokrasi yang berkonstitusi. Sebab hanya dengan langkah itulah yang dapat mengangkat posisi kerajaan Turki Usmani dari belenggu keterbelakangan menuju ke arah kemajuan sejajar dengan negara-negara Eropa. Untuk lebih jelasnya marilah kita melirik penjelasan tiga tokoh Usmani Muda berikut ini:
a. Zia Pasya (1825-1880)
Sebagai seorang tokoh Usmani Muda beliau memiliki gagasan untuk membangun kemaslahatan ummat Islam khususnya dan seluruh warga Turki pada umumnya. Demi untuk menata prospek perjalanan negerinya ke depan menuju ke arah yang lebih cemerlang. Diantara gagasan dan buah-buah pikiran beliau dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kemajuan Eropa hanya dicapai dengan sistem pemerintahan konstitusional
2. Agar Turki bisa sejajar dengan negara-negara maju di Eropa, maka turki harus meninggalkan sistem absolutisme dan segera menganut sistem konstitusional.
3. Negara konstitusional tidaklah bertentangan Islam.
4. Islam tidak menyetujui pemerintah absolutisme sebab Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam menentukan suatu kebijakan terutama perkara yang terkait dengan kemaslahatan ummat yang aman.
5. Meskipun beliau mengaku kemajuan dan kecemerlangan prestasi duniawi yang dicapai oleh Eropa dalam berbagai bidang. Sebagai sosok yang agamis beliau tidak serta merta menerima barat dan menirunya dalam segala hal, melainkan beliau tetap mengedepankan sikap selektif demi untuk menfilter budaya-budaya yang sama sekali tidak punya nilai-nilai relevansi dengan ajaran Islam.
6. Apa yang dimiliki oleh Barat yang membawa kemajuan dan ketinggian peradaban sebenarnya sudah mendapat legitimasi dari Islam.
Kesemuanya ini merupakan buah-buah pikiran Zia Pasya untuk disosialisasikan ke seluruh lapisan warga dan kalangan pemerintah Turki.
b. Namik Kemal (1840-1888)
Beliau dalam pemikiran banyak diwarnai oleh pemikiran Ibrahim Sinasi yang berpendidikan barat dan banyak mempunyai pandangan modernisme. Meskipun beliau banyak bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran barat, akan tetapi karena beliau seorang yang berjiwa Islam tinggi, sehingga aspek agama selalu saja beliau kedepankan dalam menyikapi setiap permasalahan. Diantara gagasan berikut yang dikemukakan dalam berbagai literatur adalah sebagai berikut:
1. Ide-ide Barat tak dapat diterima tanpa melalui seleksi agar pemerintahan dengan nilai-nilai Islam.
2. Syariat Islam mampu membenahi bentuk-bentuk pemerintahan dan mampu menghadapi masuknya pengaruh barat dalam Islam.
3. Cinta tanah air adalah perkara yang mesti tertanam dalam sanubari setiap ummat. Tanah air yang dimaksudkan mencakup seluruh wilayah kerajaan Usmani. Ini memberi indikasi bahwa ummat Islam harus bernaung dalam satu daulat dibawah kepemimpinan kerajaan Usmani.
4. Sistem pemerintahan konstitusional tidaklah merupakan bidang dalam Islam. Yang menghendaki kekuasaan eksekutif dipegang oleh Sultan dan para menteri-menterinya, sedang kekuasaan kontrol dipegang oleh Yeniseri (rakyat yang bersenjata).
5. Nilai musyawarah sama dengan demokrasi dalam Islam. Karena itu, negara yang berlandaskan konstitusi sejalan dengan Islam
c. Midhat Pasya (1822-1883)
Pada dasarnya gagasanyang dikemukakan oleh Zia Pasya dan Namik Kemal adalah senada dengan Midhat Pasya sebagai tokoh dari gerakan Usmani Muda yang memperjuangkan pembaharuan di Kerajaan Usmani. Namun beliau dalam menerjemahkan konstitusi yang dimaksud tampak jelas dengan bercirikan antara lain:
1. Menentukan bahwa pemerintahan harus bertanggung jawab kepada parlemen.
2. Komposisi parlemen harus atas dasar nasionalisme Turki, bukan atas dasar agama atau etnis
3. Otonomi harus diberikan kepada daerah-daerah yang mayoritas penduduknya non muslim atau non Turki.

Kendala-kendala yang Dialami oleh Usmani Muda
Diantara kendala yang dialami oleh tokoh-tokoh Usmani Muda yang sangat berarti dalam memperjuangkan konsep pembaharuan yang mereka tawarkan adalah:
1. Dukungan dari kaum terpelajar barat dan kalangan yang ekonomi tinggi relatif belum mapan.
2. Ide pembaharuan yang mereka canangkan masih relatif terlalu tinggi yang belum bisa dipahami oleh kalangan masyarakat Turki pada umumnya.
3. Ide pembaharuan yang mereka canangkan belum tersosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat bawah.
4. Ide konstitusi merupakan desakan kaum intelejensia semata, bukan desakan masyarakat.
5. Para tokoh-tokoh Usmani Muda berhasil diamankan oleh pihak pemerintah dengan dalil negara dalam kondisi darurat.
6. Setelah tokoh-tokoh tersebut diamankan, kalangan masyarakat tidak memunculkan suatu reaksi atau tindakan sebagai tuntunan kepada pemerintah agar tokoh-tokoh Usmani Muda ini segera dibebaskan. Melainkan mereka hanya bersifat passif.
7. Deklarasi Gulhane dan deklarasi Humayyun yang keduanya merupakan inspirasi program “Tanzimat” mengisyaratkan bahwa Sultan masih memiliki kewenangan yang besar, sehingga konstitusi 1876 masih dianggap sebagai anugrah Sultan.

Note: Download makalah lengkapnya...
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan titip komentar anda..