This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

07 Januari, 2008

Dinasti Nashiriyyah di Granada

Pemerintahan muslim Arab juga membawa pengaruh yang menonjol dari pihak kristen. Umat kristen di bawah pemerintahan muslim secara cepat mengadopsi bahasa Arab, tradisi (adat istiadat) dan tata cara bangsa Arab, dan mengambil pola hidup mereka yang dikepalai elit politik. Kemudian asimilasi umat Kristen ditentang oleh seorang biarawan yang bernama Eulogius yang menyerukan sebuah kultur yang murni Kristen dengan melepaskan beberapa pengaruh bangsa Arab. Maka pada tahun 850 sampai 854, Eulogius memimpin sebuah pemberontakan kalangan Mozarab di Cordova dimana sejumlah warga Kristen mengorbankan diri mereka sendiri sebagai aksi protes terhadap pemerintahan muslim Arab.
Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Abbasiyah, negara muslim Spanyol juga dilanda sejumlah kerusuhan konflik internal yang sangat rumit. Permusuhan antara elit propinsial dan elit pedagang perkotaan, antara warga kota dan tentara Bar-bar, antara non Arab yang baru masuk Islam dengan bangsa Arab, untuk menjadikan negara Muslim Spanyol tidak mampu memperkokoh rezim. Pada awal abad II, beberapa Khalifah kehilangan kekuasaan atas pemerintahan pusat, pemerintahan propinsial melepaskan diri (merdeka), dan sejumlah klan Arab melancarkan pemberontakan.
Persatuan pemerintahan kekhilafahan terhapus dan Spanyol terbagi-bagi menjadi sejumlah kesultanan kecil, yang disebut Muluk Thawa’if atau sejumlah kerajaan kecil pada tahun (1030-1040). Tentara Arab, Slavia, Barbar dan kalangan elit lokal masing-masing menjadi berkuasa, dan masing-masing propinsi menjadi merdeka dengan sebuah angkatan bersenjata, istana dan adminstrasi untuk dirinya sendiri. Di Granada elit Barbar yang tengah berkuasa dibantu oleh masyarakat Yahudi keluarga Banu Naghrila. Sehingga kondisi seperti ini mendorong permusuhan sengit dikalangan umat muslim dan sebuah gerakan anti Yahudi pada tahun 1066.

Masyarakat muslim Spanyol juga tetap disatukan oleh sebuah perdagangan regional dan intenasional yang tengah berkembang pesat. Selain kemakmuran dan kegiatan hidup masyarakat perkotaannya akan tetapi pada sisi lainnya tingkat perpecahan politik yang sedemikian menghangat dan sangat mengancam peradaban Islam bangsa Spanyol. Selama beberapa abad masyarakat Kristen telah bersiaga untuk merebut kembali Spanyol, akan tetapi kemajuan pihak Kristen ini diimbangi oleh pihak Muslim.
Pada tahun 1082, sebuah delegasi utama mengundang pihak-pihak Murabithun untuk terlibat demi membela umat muslim Spanyol. Dengan demikian pada tahun 1086, sebuah kesatuan pasukan Maroko menyeberang ke wilayah Spanyol dan mengalahkan Alfonso VI, dan dari tahun 1040-1145 pasukan Afrika Utara tersebut berhasil menundukkan kota-kota muslim Spanyol dan menguasai Spanyol sebagai sebuah wilayah propinsi bagi Marrakash. Beberapa komandan militer memerintah kota-kota dengan bekerjasama dengan ulama. Meskipun demikian pemerintahan al-Murabithun menimbul- kan berkembangnya permusuhan warga lokal. Pada saat itu kaum sufi mengepalai sejumlah pemberontakan di Silves, dan Niebla, sedang kaum ulama mengepalai sejumlah pemberontakan di Cordova dan Valencia yang pada akhirnya menyebabkan hancurnya pemerintahan al-Murabithun. Imperium al-Murabithun menjadi terpecah-pecah di bawah sejumlah tekanan akibat perlawanan lokal dan akibat dari bangkitnya gerakan al-Muwahhidun.
Ibn Tumart menamakan gerakannya dengan al-Muwahhidun, karena gerakan ini bertujuan untuk menegakkan tauhid (keesaan Allah), menolak segala bentuk pemahaman anthroformorfisme (tajsim) yang dianut oleh Murabithun. Karena itu, semangat perjuangan Ibn Tumart adalah menghancurkan kekuatan Murabithun. Di tangan Abdul Min’um, seorang panglima militer Ibn Tumart dan sekaligus pengganti kedudukannya, Muwahhidun berhasil memasuki Spanyol. Pada tahun 1114-1154 M, kota-kota muslim di Spanyol jatuh ke tangannya, yaitu Kordoba, Almeria, dan Granada. Kemudian Abdul Mun’im digantikan oleh saudaranya yang bernama Abu Yakub, dan kemudian tampillah Yakub sebagai penerusnya.
Dalam beberapa generasi ini Muwahhidun mengalami masa-masa kemajuan. Akan tetapi setelah kematian Yakub, Muwahhidan memasuki masa kemundurannya. Bersamaan dengan kemunduran Muwahhidin ini, pasukan salib yang telah dikalahkan oleh Salahuddin di Palestina kembali ke Eropa dan mulai menggalang kekuatan baru di bawah pimpinan Al-Fonso IX. Kekuatan Kristen ini mengulangi serangannya ke Andalusia, dan mereka berhasil mengalahkan kekuatan muslim Muwahhidun. Setelah beberapa kali mengalami kekalahan dan terus terdesak, akhirnya penguasa Muwahhidin meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (Marokko). Sepeninggal Muwahhidun ini, di Spanyol timbul kembali sejumlah kerajaan kecil. Di antara mereka yang terbesar adalah kekuatan Muhammad Ibn Yusuf Ibn Nasr yang terkenal sebagai “Ibn Ahmar”. Ia berhasil menegakkan sebuah kerajaannya selama kurang lebih dua abad.
Setelah Al-Muwahhidun meninggalkan Spanyol, sebagian besar kota-kota muslim segera jatuh ke tangan Kristen: Cordova jatuh pada tahun 1236, dan Seville pada tahun 1248. Salah seorang pemuka muslim dari keturunan Arab, “Muhammad Al-Galib, berusaha mengambil kembali kekuasaan propinsi Granada, dan membangun benteng sekitar Granada yang dikenal dengan al-Hambra. Muhammad Al-Galib setuju membayar upeti pertama-tama kepada Ferdinand I dari Castile dan kemudian penggantinya Al-Fonso X. Para Sultan Nashiriyyah berusaha mengambil kebijakan keseimbangan antara orang-orang Kristen dan Mariniyah di Fez, yang ambisinya adalah untuk mengambil kembali Spanyol, tetapi harapan muslim terhadap keberhasilan intervensi Mariniyah akibat kekalahan Sultan Abu al-Hasan Ali oleh Alfonso X dari Castile di Rio Salado pada tahun 1340.
Kerajaan Granada merupakan pertahanan terakhir muslim Spanyol. Setelah terjadi penaklukan kota Valencia, Cordova, Saville, dan Marcea oleh penguasa Castille yang bernama Ferdinand III, dan oleh penguasa Aragon yang bernama Jaime I, pemerintahan muslim di Spanyol tinggal bertahan di Propinsi Grananda. Bahkan penguasa Granada juga dipaksa membayar sejumlah upeti kepada pemerintahan Castille. Kerajaan Granada didirikan oleh Ibnu Al- Ahmar, sekalipun merupakan penguasa yang kuat, namun ia tidak mampu menghadapi kekuatan pasukan Kristen yang hampir menguasai seluruh wilayah Spanyol.
Ibnu Ahmar berusaha menahan tekanan dari pemerintahan Kristen, hingga akhirnya berhasil menjadikan Granada sebagai satu-satunya wilayah pemerintahan muslim sampai dengan tahun 1424 M, di tengah-tengah pemerintahan raja-raja Kristen. Semenjak abad ke 15, Granada mengalami kehancuran.
Persekutuan antara wilayah Aragon dan Castille melalui perkawinan Ferdinand dengan Isabella melahirkan kekuatan besar untuk merebut kekuasaan terakhir umat Muslim di Spanyol. Namun beberapa kali serangan mereka belum berhasil menembus pertahanan umat Islam. Abu al-Hasan yang pada saat itu menjabat penguasa Granada mampu mematahkan serangan mereka. Bahkan Abu al-Hasan menolak pembayaran upeti terhadap pemerintahan Castille.
Maka ketika utusan Ferdinand datang ke Granada untuk menagih upeti, Abu al-Hasan menghardiknya dan mengatakan bahwa raja-raja Granada yang bersedia membayar upeti telah meninggal. Sekarang yang ada hanya “pedang”. Bahkan Abu al-Hasan mengadakan penyerangan dan menduduki kota Zahra.
Untuk membalaskan dendamnya terhadap Abu al-Hasan, Ferdinand melancarkan serangan mendadak terhadap al-Hamra dan berhasil merebutnya. Banyak wanita dan anak kecil berlindung di Masjid dibantai oleh pasukan Ferdinand. Jatuhnya al-Hamra merupakan pertanda jatuhnya pemerintahan Granada.
Situasi pemerintahan pusat di Granada semakin kritis dengan terjadinya beberapa kali perselisihan dan perebutan kekuasaan antara Abu al-Hasan dengan anaknya yang bernama Abu Abdillah. Serangan pasukan Kristen yang berusaha memanfaatkan situasi kritis ini dapat dipatahkan oelh Zaghal, saudara Abul Hasan. Zaghal menggantikan Abu al-Hasan sebagai penguasa Granada. Zaghal berusaha mengajak Abu Abdullah untuk menggabungkan kekuatan dalam menghadapi musuh Kristen. Akan tetapi Abu Abdullah menolak ajakan tersebut. Sehingga terjadi permusuhan antara Zaghal dan Abu Abdullah, pasukan Kristen memanfaatkan kesempatan dengan menyerbu kekuasaan Zaghal dan berhasil menduduki Alora, Kasr-Bonela, Rondal, Malaga, Loxa, beberapa kota penting lainnya. Sehingga kekuasaan Zaghal tinggal sebagian kecil saja. Maka ketika itu Ferdinand kembali melancarkan serangannya untuk menghabisi sisa-sisa kekuatan Zaghal, hingga Zaghal menyerah dan melarikan diri ke Afrika.
Satu-satunya kekuatan muslim yang berada di Kota Granada dipimpin oleh Abu Abdullah yang belum hancur. Akan tetapi pasukan Ferdinand melakukan serangan besar-besaran dan berhasil menghancurkan pasukan Granada yang dipimpin oleh Abu Abdullah dan panglimanya, Musa. Kemudian setelah itu, sang raja dipaksa menyampaikan sumpah setia kepada Ferdinand, dan bersedia melepaskan harta kekayaan umat muslim, dengan syarat bahwa umat muslim diberi hak hidup dan kebebasan beragama, pada kenyataannya hak itu diabaikan oleh Ferdinand. Peralihan kekuasaan umat Islam oleh Ferdinand terjadi pada tanggal 3 Januari 1492 M.
Pada tahun 1502 hukum Spanyol mengeluarkan sebuah dekrit dimana umat Islam harus memilih dua alternatif, bersedia di Baptis sebagai pemeluk kristen atau keluar dari Spanyol. Sebagian muslim Spanyol bersedia memeluk agama Kristen daripada harus meninggalkan tanah airnya, sedang sebagian lainnya tetap bertahan dalam keyakinan Islam sekalipun harus menderita siksaan dan pengusiran dari negeri Spanyol. Kebanyakan dari mereka berpindah ke Maroko, Mesir, dan Turki. Pasukan kristen tidak hanya berbuat kejam terhadap umat Islam Spanyol, akan tetapi mereka juga membakar sejumlah manuskrip-manuskrip Arab.
Banyak orang Granada berusaha merekonsiliasi dengan tetap Muslim secara rahasia tetapi secara lahir mengaku Kristen. Mereka dipaksa melakukan peribadatan dan tata cara beragama kristen. Dengan demikian anak dan generasi mereka menjadi kristen. Dengan demikian jatuhnya kota muslim di tangan Kristen Spanyol berarti lenyaplah pusat peradaban, singgasana ilmu pengetahuan dan singgasana para ilmuan muslim di Spanyol. Pada tahun 1556 pakaian Arab Muslim di Granada dilarang, dan pada tahun 1556 Philip II mengumumkan bahwa bahasa Arab tidak boleh digunakan. Akhirnya pada tahun 1609 Philip II mengusir orang Islam dari Spanyol mereka mengungsi ke Afrika Utara dimana masyarakat Andalusia memberikan sumbangan terhadap peradaban Islam di wilayah tersebut.

Download malakah lengkapnya...