Published April 20, 2010 by with 0 comment

AL-FARABI (Filsafat al-Faydh, al-Nafs dan al-Madinah al-Fadhilah)

Dalam sejarah dunia filsafat, Yunani merupakan tonggak pangkal munculnya pemikiran filsafat yang mulai tumbuh dan berkembang di beberapa kota. Pemikiran filosof itu kemudian masuk ke dalam dunia Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli pikir Islam di Suria, Mesopotamia, Persia dan Mesir.
Budaya dan filsafat Yunani masuk ke negeri-negeri tersebut dengan adanya ekspansi Alexander yang agung yang dalam bahasa Arab disebut Iskandar Zulkarnain. Ekspansi tersebut terjadi pada abad ke-4 sebelum Masehi.
Setelah Alexander dapat menaklukkan negeri-negeri tersebut, ia kemudian membuat kebijaksanaan politik untuk menyatakan kebudayaan Yunani dan kebudayaan Persia. Pengaruh kebijaksanaan tersebut meninggal-kan bekas yang besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya hingga kemudian timbullah pusat-pusat kebudayaan Yunani di Timur, seperti Alexanderia di Mesir, Jundisapur di Mesopotamia dan Bacha di Persia.
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani dalam dunia Islam belum nampak jelas sebab perhatian lebih dipusatkan pada kebudayaan Arab. Namun, setelah pemerintahan Bani Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Yunani nampak lebih jelas karena pada waktu itu orang-orang yang duduk di pemerintahan pusat bukan hanya dari kalangan Arab, tetapi juga orang-orang Persia yang banyak berkecimpung dengan budaya Yunani.

A. Biografi al-Farabi
Nama lengkapnya ialah Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalgh. Di kalangan orang-orang Latin abad tengah, al-Farabi lebih dikenal dengan nama Abu Nashr (Abunaser),1 sementara di kalangan masyarakat Eropa ia lebih dikenal dengan al-Farabius, juga Avennaser.2 Sebutan al-Farabi diambil dari nama kota Farab (sekarang dikenal dengan kota Attar) Turkistan, dimana ia dilahirkan pada 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang jenderal berkebangsaan Iran, sementara ibunya berkebangsaan Turki.3
Sejak kecil al-Farabi sudah menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa terutama di bidang bahasa, khususnya bahasa Persia, Turkistan dan Kurdistan. Nampaknya, ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Siriani sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.4
Dalam usianya yang masih sangat muda, al-Farabi bersama ayahnya pergi ke Baghdad yang ketika itu menjadi pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan. Pada mulanya, ia memusatkan perhatiannya di bidang logika dan tata bahasa Arab (nahwu-sharaf) pada Abu Bakar al-Sarraj. Setelah itu, ia kemudian pindah ke Harran, lalu kembali lagi ke Baghdad untuk belajar filsafat. Di sana al-Farabi menetap selama kurang lebih 30 tahun. Waktu puluhan tahun itu digunakannya untuk belajar filsafat, matematika, kedokteran dan bahasa Arab, sekaligus mengajar dan menulis karya-karyanya.5
Pada 330 H/942 M al-Farabi pindah ke Damsyik karena mendapatkan undangan dari pemerintah Syi’i Hamdani, Sayf al-Dawlah dan tinggal bersama para pengikutnya serta beberapa rekannya di Halab (Aleppo) sampai akhir hayatnya pada 337 H (950 M) pada usia 80 tahun.6
Al-Farabi adalah eksponen filsafat Neo-Platonis muslim yang dimulai oleh al-Kindi dan dilanjutkan kemudian oleh Ibnu Sina. Al-Farabi boleh dikatakan sebagai ensiklopedi hidup. George Sarton – sebagaimana yang dikutip oleh Jamil Ahmad – menulis, “Ia mengenal segenap pemikiran ilmiah pada zamannya”.7
Al-Farabi dianggap sebagai “hujjat al-mantiq” (ahli logika) dan guru besar dalam ilmu filsafat dan ilmu metafisika.8 Filsafat al-Farabi merupakan sinkretisme antara Platonisme, Aristotelisme dan Sufisme. Gagasannya di bidang ini mempunyai pengaruh yang sangat luas dan dalam. Menurut ‘Allamah ibn Khan, “Tidak ada seorang muslim pun yang bisa menyamai taraf ilmu filsafat al-Farabi, hanya dengan menelaah gagasannya dan meniru gaya tulisannya akhirnya Ibnu Sina bisa mencapai kemahiran dan kecerdasan yang menyebabkan karyanya sendiri berguna”.8 Disamping pada Ibnu Sina, pengaruh al-Farabi bisa diusut pada karya-karya pemikir dan pujangga Islam seperti Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, Fakhruddin Razi, Ibn Haytam, Ibn Miskawaih, Jalaluddin Rumi dan al-Ghazali.

B. Filsafatnya
Sebagai pembangun sistem filsafat, khususnya filsafat Islam,9 al-Farabi membaktikan diri untuk berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat. Ia telah meninggalkan sejumlah risalah penting. Di samping murid-murid yang belajar secara langsung, banyak pula orang yang mempelajari karya-karyanya sepeninggalnya, bahkan menjadi pengikutnya. Filsafatnya menjadi acuan pemikiran ilmiah bagi Barat dan Timur, lama sepeninggalnya.
Filsafat al-Farabi mempunyai corak dan tujuan yang berbeda dengan para filosof lainnya. Ajaran-ajaran para filosof terdahulu diambilnya, lalu ia bangun kembali dalam bentuk yang sesuai dengan lingkup kebudayaan kemudian disusunnya menjadi sedemikian sistematis dan selaras. Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikirannya, pernyataan, argumentasi, diskusi, keterangan dan penalarannya. Filsafatnya mungkin bertumpu pada beberapa perkiraan yang keliru dan mungkin juga berisi beberapa hipotesis yang telah ditolak oleh ilmu pengetahuan modern, namun ia mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar di bidang pemikiran masa-masa sesudahnya. Berikut ini akan diuraikan secara singkat unsur-unsur penting filsafatnya.
1. Filsafat al-Faydh (emanasi)
Salah satu filsafat al-Farabi yang terkenal ialah filsafat al-faydh (emanasi)10 yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa sama sekali. Teori ini membahas tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari zat yang wajib al-wujud (Tuhan). Hal itu karena Tuhan mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya.11 Dengan kata lain, Tuhan sebagai al-Maujud al-Awwal merupakan sebab pertama bagi segala yang ada.
Seperti halnya Plotinus, al-Farabi mengatakan bahwa Tuhan itu Esa, karena itu yang keluar dari pada-Nya juga satu wujud saja, sebab emanasi itu timbul karena pengetahuan (ilmu) Tuhan terhadap zat-Nya yang satu. Kalau apa yang keluar dari zat Tuhan itu berbilang, berarti zat Tuhan itu pun berbilang. Dasar adanya emanasi tersebut ialah karena dalam pemikiran Tuhan dan pemikiran akal-akal terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan. Dalam alam manusia sendiri, apabila memikirkan sesuatu maka tergeraklah kekuatan badan untuk mengusahakan terlaksananya atau wujudnya sesuatu itu.12
Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut akal pertama yang mengandung dua segi. Pertama, segi hakikatnya sendiri (tabi’at, wahiyya), yaitu wujud yang mumkin. Kedua, segi lain yaitu wujudnya yang nyata dan yang terjadi karena adanya Tuhan sebagai zat yang menjadikan. Jadi, meski-pun akal pertama tersebut satu (tunggal), namun pada dirinya terdapat bagian-bagian, yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi obyek pemikirannya. Dengan adanya segi-segi ini, maka dapatlah dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak dari akal pertama.13
Dari pemikiran akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang wajib dan sebagai wujud yang mengetahui dirinya maka keluarlah akal yang kedua. Dari pemikiran akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang mumkin dan mengetahui dirinya, maka timbullah langit pertama atau benda langit terjauh (al-sama’ al-ula; al-falak al-a’la) dengan jiwanya sama sekali (jiwa langit tersebut). Jadi dari dua obyek pengetahun yaitu dirinya dan wujudnya yang mumkin keluarlah dua macam makhluk tersebut yaitu benda langit dan jiwanya. Dari akal kedua timbullah akal ketiga dan langit kedua atau bintang-bintang tetap (al-kawakib al-tsabitah) beserta jiwanya dengan cara yang sama seperti yang terjadi pada akal pertama. Dari akal ketiga keluar-lah akal keempat dan planet Saturnus (Zuhal), juga beserta jiwanya. Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet Yupiter (al-Musytara) beserta jiwanya. Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan planet Mars (Mariiah) beserta jiwanya. Dari akal keenam keluarlah akal ketujuh dan Matahari (al-Syams) beserta jiwanya. Dari akal ketujuh keluarlah akal kedelapan dan planet Venus (al-Zuharah) juga beserta jiwanya. Dari akal kedelapan keluarlah akal kesembilan dan planet Mercurius (‘Utarid) beserta jiwanya pula. Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluh dan Bulan (Qamar). Dengan demikian, dari satu akal keluarlah satu akal dan satu planet beserta jiwanya.14

Catatan:
Makalah di atas belum lengkap, maka Download lengkapnya...

0 comments:

Posting Komentar

Silakan titip komentar anda..