22 Juli, 2010

A L – K I N D I (Riwayat Hidup, Kesesuaian Antara Agama dan Filsafat, Filsafat Ketuhanan dan Filsafat Jiwa atau al-Nafs)

Dalam sejarah Islam, penulisan filsafat yang sistematis baru dimulai pada abad ke-9, Sebelumnya kegiatan filosofis hanya berkisar pada penerjemahan karya-karya filsafat Yunani dan Suryani. Penulis yang pertama-tama merayakan tradisi penulisan filsafat adalah al-Kindi. Filosof ini mengaku keturunan kabilah Kindah ini, lahir di kota Kufah dan di kota itu, ayahnya menjabat Gubernur.
Awal mula pemikiran filsafat, seperti halnya penciptaan manusia, sama-sama melampaui perjalanan sejarah. Pemikiran merupakan ciri yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, di mana pun ia menjejakkan kakinya. Pemikiran dan pemahaman senantiasa dibawanya. Oleh karena itu, tidak ada informasi secara pasti mengenai pemikiran-pemikiran yang tak tertulis oleh manusia, kecuali dugaan berdasarkan peninggalan yang ditemukan.
Di antara sekian banyak persoalan yang ingin diungkap oleh pemikiran manusia adalah pengetahuan tentang “wujud”, awal dan akhirnya. Pada awalnya, pengetahuan tentang wujud ini, sejalan dengan pengetahuan keagamaan. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa pemikiran filosofis terkuno ada dalam pemikiran keagamaan Timur.

Berdasarkan uraian di atas, maka pemakalah akan merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Defenisi filsafat
2. Bagaimana riwayat hidup al-Kindi ?
3. Bagaimana pandangan al-Kindi tentang agama dan filsafat serta Tuhan dan al-nafs/jiwa. ?
A. Riwayat hidup al-Kindi
Nama lengkapnya al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak ibn al-Subbah Imran bin Ismail bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-Kindi. Ia populer dengan sebutan al-Kindi. Ia lahir di Kufah (Iraq) sekitar 185 H. dan wafat tahum 260 H./873 M. orang tuanya adalah gubernur di Bashrah.
Setelah dewasa, ia ke Bagdad dan mendapat perlindungan dari khalifah al-Ma’mun (Daulah Abbasyiah) dan khalifah al-Mu’tasim. Neneknya bernama al-Asy’ats bin Qaish. Termasuk seorang sahabat Nabi yang paling pertama datang di kota Kufah.
Ketika al-Kindi sampai di Bagdad, ia sangat senang dengan suasana intelektual di sana. Ia menerjemahkan beberapa karya dan merevisi terjemahan orang lain, seperti teologi Aristoteles. Untuk mengalih bahasakan istilah-istilah filosofis dan ilmiah tertentu yang ia temukan dalam-karya-karya asing, ia menciptakan kata-kata baru dalam bahasa Arab. Seperti jirm untuk tubuh, thinah untuk materi al-tawahum untuk imajinasi dan lain-lain.
Sebagai penulis yang sangat produktif, ia menulis sekitar 270 dalam berbagai bidang ilmu yang dikenal pada masanya, seperti geometrik, musik, astronomi, parmakologi, meteorologi, kimia, kedokteran dan polomika. Ia juga menulis semua cabang ilmu filsafat, seperti logika, fisika, metafisika, psikologi dan etika.
Di dalam menulis karya-karya tersebut, pertama ia menjelaskan sejelas mungkin pandangan-pandangan para pendahulunya kemudian merivisi dan kemudian mengembangkannya sesuai dengan kepentingan-kepentingan baru.
Karya-karya al-Kindi yang berjumlah sekitar 270 buah, tersebar dibelahan dunia Islam, akan tetapi, banyak berupa risalah-risalah pendek dalam bidang filsafat, antara lain sebagai berikut:
1.Fi al-falsafah al-ula (filsafat pertama)
2.Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tulisan filosofis tentang rahasia spritual).
3.Risalah fi Hudud al-Asyya wa Rusumiha (defenisi benda-benda uraiannya)
4.Fi Ma’iyah al-Ilmu wa al-Aqsami (filsafat ilmu pengetahuan dan klasifikasiny).
Mengenai kematiannya tidak ada kepastian. L. Musognon mengatakan ia wafat sekitar 245 H. (860 M). C. Laninno menduga tahun wafat al-Kindi sekitar (w. 260 H/873 M). Adapun Mustafa Abdul Raziq mantan Rektor al-Azhar mengatakan tahun (252 H/866 M).
B. Kesesuaian antara Filsafat dan Agama
Masalah hubungan filsafat dan agama, menimbulkan masalah baru yang diperdebatkan pada zaman al-Kindi. Ahli-ahli agama pada umumnya menolak keabsahan ilmu filsafat, karena di antara produk pemikiran filsafat jelas menunjukkan pertentangan dengan ajaran al-Qur’an. Sebagai seorang filosof al-Kindi telah mengangkat dirinya sebagai pembela ilmu filsafat yang seharusnya tidak dipertentangkan dengan agama karena keduanya membawa kebenaran yang serupa.
Agama dan filsafat menurutnya adalah ilmu pengetahuan yang benar البحث عن الحق. Oleh karena itu, Al-Qur’an sebagai sebuah wahyu dari Allah tidak mungkin bahkan mustahil bertentangan kebenaran yang dihasilkan filsafat sebagai sebuah upaya maksimal dalam menggunakan akal untuk menemukan kebenaran. Karena itu, mempelajari filsafat dan berfilsafat bukanlah merupakan pengingkaran terhadap kebenaran wahyu (al-Qur’an), dan teologi sebagai bagian dari filsafat, sangat penting untuk dipelajari.
Bertemunya filsafat dan agama dalam kebenaran dan kebaikan segaligus menjadi tujuan dari keduanya. Agama di samping wahyu mempergunakan akal dan filsafat juga mempergunakan akal. Yang benar pertama menurut al-Kindi adalah Tuhan.
Dengan demikian, orang yang menolak filsafat, maka orang tersebut menurut al-Kindi telah mengingkari kebenaran, menolaknya berarti ia “kafir” padahal kita harus menyambut kebenaran dari mana pun datangnya, sebab tiada yang lebih berharga bagi pencari kebenaran, kecuali kebenaran itu sendiri
Adanya golongan menolak filsafat atas dasar tidak mau menerima ta’wil, padahal menurut al-Kindi, itu tidak boleh dijadikan alasan sebab al-Qur’an adalah bahasa Arab dan bahasa Arab memilih 2 macam, pertama makna hakiki dan kedua adalah makna majazi, tentu saja yang dapat mena’wilkan al-Qur’an hanya orang yang mendalam agamanya dan ahli pikir.

Catatan:
Makalah di atas belum lengkap, maka download lengkapnya...