21 Januari, 2012

SYARIKAT ISLAM (Gerakan pembaruan Politik Islam)

 SYARIKAT ISLAM 
(Gerakan pembaruan Politik Islam)

BAB I
Pendahuluan
 

Capaian-capaian peradaban manusia merupakan siklus sejarah yang saling melengkapi satu sama lain. Sebuah titik peristiwa sejarah merupakan guru bagi peristiwa-peristiwa sejarah yang datang kemudian. Akumulasi dari rangkaian-rangkaian peristiwa sejarah itu melahirkan formula bahkan format bagi sebuah peradaban.

Sejarah merupakan napak tilas peristiwa masa lalu, pembelajaran untuk masa sekarang dan prediksi bagi masa depan. Perjalanan panjang kehidupan manusia dalam menciptakan kebahagiaan dalam kehidupan individu dan juga masyarakatnya, mengharuskan mereka berpikir dan berbuat. Hasil pemikiran dan aktivitas itu ada yang membuahkan hasil cemerlang, namun tak sedikit yang menuai kegagalan yang memilukan.
Melihat ke belakang (sejarah) dalam mencipta peradaban bagi kebahagiaan manusia adalah sebuah usaha aktif yang maju guna merangkai formula-formula bahkjan format-format kehidupan yang lebih mapan; yang lebih baik dibanding sebelumnya. Hal itu dapat dilakukan dengan menilik unsur-unsur dan prinsip-prinsip sejarah kemudian diejawantahkan sesuai dengan tuntutan kehidupan kekinian. Kegagalan sebuah sejarah diperlakukan sebagai cermin diri agar tak terulang lagi kesalahan yang pernah ada. Keberhasilannya diurai dengan menghadirkan seluruh instrumen yang ada dalam kondisi tempat formulasi itu diterapkan. Penyatuan kedua ritme kehidupan di atas, dengan berpijak pada sikap positif dan pro aktif, akan membuahkan hasil yang lebih baik di banding masa sebelumnya.

Gambaran di atas ingin diajukan dalam uraian makalah ini, dengan menarik sebuah organisasi Islam sebagai fokus kajiannya. Organisasi yang dimaksud adalah Syarikat Islam.

Uraian makalah ini akan memapar sejarah kemunculan Syarikat Islam, perkembangannya serta peroblematika-problematika yang menimpa organisasi Islam pertama ini dalam gerakan-gerakan perjuangannya. Sambil mendeskripsikan hal-hal di atas, sekaligus akan dipaparkan pula tokoh-tokohnya, sekaligus analisa atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan, termasuk keberhasilan dan kegagalannya dalam melaksanakan perjuangannya.

Sejarah dan Latar Belakang Kemunculannya.
Syarikat Islam yang kita bicarakan dalam makalah ini pada awalnya bernama Sarekat dagang Islam (SDI). Ia didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 di Solo dengan tokoh pemrakarsanya seorang pedagang, H. Samanhudi . Konteks yang melatari lahirnya SDI adalah lantaran adanya kesadaran Kaoem boemipoetra yang hidup berada dalam tekanan imperialisme kaum penjajah asing (Belanda) yang ketika itu melahirkan strata masyarakat Nusantara kepada tiga golongan atau tingkatan:
• Strata I Kaum Indo Belanda, bangsa Eropa
• Strata II Kaum Perantauan Timur Asing (Cina, Arab, India)
• Strata III Kaum Inlander, yaitu bangsa Hindia Belanda (Indonesia).

Kesadaran akan nasib sebagai warga negara kelas tiga di tanah tumpah darahnya sendiri, menyebabkan kalangan saudagar muslim dan para haji bangkit untuk memberdayakan kaumnya. Mereka melakukan gerakan dagang atau ekonomi dengan iktikad melawan atau meruntuhkan dominasi kekuatan kaum Cina perantauan yang kala itu mendapat hak-hak lebih dan istimewa dalam dunia ekonomi dan perdagangan. Perdagangan besar dikuasai oleh kaum Indo-Belanda, sentra-sentra ekonomi berbasis pasar dikuasai para Cina, Arab, India sedang bangsa Indonesia menjadi kaum kebanyakan, buruh dan pekerja kasar.

Kondisi seperti diungkap di atas, jelas menampakkan bahwa kesadaran dasar yang muncul pertama kali dalam sejarah organisasi Islam --ditandai dengan kelahiran Sarekat Dagang Islam-- diawali dari kesadaran akan ketereliminasian umat dari sisi ekonomi. Di samping itu yang penting pula diperhatikan dalam latar belakang kemunculan SDI ini adalah adanya kesadaran dari sebagian masyarakat akan pentingnya pencerahan pemikiran, terutama pemikiran keislaman, bagi bangkit dan majunya umat Islam di Indonesia.
Lahirnya kesadaran dan bangkitnya kaum muslimin saat itu, sesungguhnya kuat didorong oleh adanya kebangunan Islam dunia, dan peranan pelaksanaan haji di awal abad ke-20. Hal itu dapat mengindikasikan bahwa pergerakan SDI pada dasarnya kuat dipengaruhi secara eksternal oleh fenomena gerakan tajdid (pembaruan) pemikiran Islam yang sedang berlangsung di belahan dunia Timur Islam, yang diprakarsai oleh antara lain: Syaikh Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan para mujtahid lainnya. Hal itu langsung maupun tidak, berimbas juga pada dorongan internal yaitu kesadaran kaum muslimin akibat adanya interaksi pergaulan pada mereka yang melaksanakan ibadah haji di tanah suci.

Dari sinilah kita menandai adanya kebangunan Islam di Indonesia, sebagai pertanda dan menjadi rangkaian perubahan masyarakat di Nusantara ketika itu. Titik tekan terpenting yang menjadi sebab kebangunan ataupun kebangkitan umat Islam saat itu adalah tumbuhnya kesadaran umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan perjuangan anti kolonialisme kaum kuffar yang menjajah banyak wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kehadiran para jamaah haji di tanah haram tentu memberikan pengaruh tersendiri bagi terbangunnya sentimen keagamaan untuk kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan kaum muslimin atas keterjajahan diri dan bangsanya.
Sisi lain yang juga menjadi motivasi adalah dalam konteks menghadapi ancaman yang disebut Rosihan Anwar sebagai “kerstening politiek” Belanda yang diberlakukan di tanah jajahan ini. Perlawanan atas kebijakan politik Belanda itulah, membuat kaum muslimin Indonesia secara patriotik melakukan respons perwiranya. Keragaman sebab yang merupakan kausa prima itu kemudian saling bersinergi satu sama lain yang muaranya bertumpu dan berakumulasi pada lahirnya kesadaan baru kaum muslimin untuk melepas diri dari keterkungkungan kaum penjajah, dan menghadapi persaingan dagang dengan kaum Cina Perantauan dan keturunan India.

Mantan Ketua Umun Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam, M.A. Ghani, menyebutkan, bahwa ada 4 (empat) pokok pikiran yang menjadi tujuan perjuangan SDI sebagai wadah perjuangan kaum muslimin ketika itu:
  1. Upaya memperbaiki nasib rakyat dalam bidang sosial ekonomi
  2. Mempersatukan para pedagang batik agar dapat bersaing dengan pedagang dari keturunan Cina.
  3. Kehendak mempertinggi derajat dan martabat bangsa pribumi
  4. Mengembangkan serta memajukan pendidikan dan agama Islam. 

Dari awal gerakan yang berkonsentrasi pada bidang ekonomi dan perdagangan, gerakan berubah menjadi gerakan sosial, ekonomi dan keagamaan. Label Islam tetap menjadi citra kejuangannya. Maka pada 1906 (atau ada juga yang menyebutnya pada 1911) berubahlah nama pergerakan itu menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama menjadi Syarikat Islam (SI) ini secara langsung ataupun tak langsung adalah disebabkan karena bergabungnya seorang tokoh “pemberontak” HOS Tjokroaminoto yang bekerja pada sebuah maskapai penerbangan di Surabaya ke dalam tubuh perkauman ini. Dari sini stressing dan aksentuasi pergerakan tidak lagi bertumpu sekadar pada urusan dagang atau ekonomi semata tetapi jauh lebih meluas, menyentuh aspek-aspek lainnya.

Ide-Ide Umum Syarekat Islam
Sebagai sebuah organisasi pergerakan yang berbasis Islam, Syarekat Islam lahir dengan keinginan untuk mengubah tatanan sosial kemasyarakatan yang menimpa masyarakat muslim, akibat kondisi keterjajahan mereka oleh Belanda kala itu.
Meskipun pada awalnya --saat masih bernama SDI-- gerakan ini lahir sebagai gerakan Islam yang menitikberatkan perjuangannya pada bidang ekonomi umat, namun muncul pula kesadaran bahwa perhatian pada ekonomi umat, mesti dipadukan dengan peranan politik umat Islam.
Hadirnya HOS Tjokroaminoto dalam pergerakan ini meretas jalan mulus menuju kebijakan dan peran politik umat Islam. Di bawah kepemimpinannya orientasi pergerakan lebih bersifat politik. Ia lalu menasional terbukti dari kongres-kongres yang diadakan dengan menggunakan kata nasional, khususnya sejak 1916 di Bandung. Sifat politik secara tegas diformulasikan dalam ketetapan kongres pada 1917 di Batavia. Cita-cita mewujudkan pemerintahan sendiri dan berparlemen telah dikemukakan oleh HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis, salah seorang tokoh Budi Utomo yang bergabung untuk kemudian mengubah SI menjadi Central Sarekat Islam (CSI).

Desakan yang berhasil dilakukan terhadap pemerintah adalah berdirinya Volksraad di mana dua orang tokoh CSI duduk di dalamnya yaitu HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Sikap HOS Tjokroaminoto begitu keras sehingga ia mengeluarkan sebuah petisi/mosi tidak percaya kepada pemerintah karena menganggap Volksraad tidak berpihak kepada kehendak mendengarkan aspirasi masyarakat bangsa pribumi.

Kemudian di dalam tubuh CSI terjadi perpecahan, hingga pada kongres Nasional VI bulan Oktober 1921 di Surabaya ditegakkan disiplin partai, yaitu mengharamkan orang-orang berhaluan komunis berada di dalam SI/PSII. Dari sini sejarah mencatat bahwa SI jadi terbelah dua: SI Putih dan SI Merah. SI putih (yang dimotori oleh Agus Salim dan Abdul Muis) berhasil membuang SI merah --yang di dalamnya terdapat Semaun, Tan Malaka, Darsono, Alimin dan Haji Misbach-- dari tubuh PSII/SI. Sebagai konsekuensinya SI menjadi (Sarekat Internasional) bertukar nama menjadi Sarekat Rakyat dan menyatakan dirinya sebagai suatu organisasi radikal nasional baru.
Ide-ide umum yang dapat ditangkap dari pergerakan Sarekat Islam, dapat dilihat pada Anggaran Dasar pertama yang dirumuskan oleh Raden Mas Tirto Adisurjo.

“Tiap-tiap orang mengetahuilah bahwa masa yang sekarang ini dianggapnya masa zaman kemajuan, haruslah sekarang kita berhaluan: Janganlah hendaknya mencari kemajuan itu cuma dengan suara saja. Bagi kita kaum muslimin adalah dipikulkan wajib juga akan turut mencapai tujuan itu, dan oleh karenanya, maka telah kita tetapkanlah mendirikan perhimpunan Sarekat Islam”
Dalam ungkapan itu dapat ditangkap bahwa terdapat kesadaran akan ketertinggalan umat Islam yang harus segera dientaskan lewat kerja keras yang sungguh-sungguh, agar umat dapat maju dan turut serta dalam pengambilan kebijakan dalam percarutan kehidupan sosial maupun politik di Indonesia.
Hal di atas juga nampaknya lahir dari kesadaran akan keterpurukan umat Islam. Seperti kita lihat pada bagian-bagian sebelumnya bahwa ternyata masyarakat muslim di kala itu terposisikan sebagai kelompok masyarakat kelas tiga di samping Belanda dan etnis-etnis; Cina dan juga Arab. Keterpurukan itu sangat jelas pada bidang ekonomi. Belanda sebagai peletak kebijakan, memberikan kesempatan yang lebih besar kepada non pribumi dalam persoalan perdagangan dan ekonomi. Hal itu membuat sebagian pemikir muslim kala itu merasa terpanggil untuk meluruskan keberpihakan yang tidak adil itu. Karenanya dapat dikatakan bahwa pada awal berdirinya, ide umum yang ditelorkan oleh Sarekat Dagang Islam, seperti namanya adalah melakukan “perang” secara ekonomi melawan pihak-pihak tertentu. Di samping itu, tujuan organisasi ini adalah:

“Akan berikhtiar supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara dan supaya timbullah kerukunan dan tolong menolong satu sama lain antara sekalian kaum muslimin dan lagi dengan segala daya upaya yang halal dan tidak menyalahi wet-wet negeri-negeri Surakarta dan wet-wet government,… berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesaran negeri”.
Terlihat jelas dalam bagian ini bahwa keberpihakan yang menjadi arah dari Sarekat Islam adalah memajukan umat Islam dari sisi ekonomi dan juga politik, serta terkandung pula usaha untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan Belanda.
Simpulnya dapat dikatakan bahwa ide-ide umum yang ditelorkan SI bermuara pada usaha kebangkitan umat Islam, lewat persatuan serta perjuangan melepaskan diri dari cengkeraman kuku-kuku penjajah.

IDE-IDE PEMBARUAN SI
Sebagai pergerakan Islam yang pertama di tanah air, SI tentu saja memiliki ide-ide pembaruan yang ingin diterapkannya sebagai proses menuju sasaran yang diinginkannya. Ide-ide pembaharuan itu dapat dilihat dari hasil kongres SI 1917 yang isinya antara lain:
1. Politik: SI menuntut berdirinya dewan-dewan daerah, perluasan volkstrad (dewan rakyat) serta menuntut penghapusan kerja paksa dan sistem izin untuk bepergian.
2. Pendidikan: Partai menuntut penghapusan peraturan yang mendiskriminasikan penerimaan murid di sekolah-sekolah. Ia juga menuntut terlaksananya wajib belajar untuk semua penduduk sampai berumur 15 tahun; perbaikan lembaga-lembaga pendidikan pada segala tingkatan; memasukkan pelajaran keterampilan; perluasan sekolah hukum dan sekolah kedokteran menjadi universitas dan pemberian Bea siswa untuk belajar di luar negeri.
3. Agama: Partai menuntut dihapusnya undang-undang dan peraturan yang menghambat tersebarnya Islam; pembayaran gaji bagi kiyai dan penghulu; subsidi bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pengkauan hari-hari besar Islam
4. Agraria: Partai menuntut perbaikan agraria dan pertanian dengan menghapuskan particulire lauderijen (tuan tanah).
5. Industri. Partai menuntut agar industri-industri yang sangat penting, dinasionalisasikan.
6. Keuangan dan perpajakan: Partai menuntut adanya pajak-pajak berdasar proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan.
7. Kooperasi: Partai menuntut agar pemerintah memberikan bantuan bagi perkumpulan kooperasi.
8. Sosial: Partai menuntut agar pemerintah memerangi minuman keras dan candu; perjudian dan prostitusi; juga melarang penggunaan tenaga kerja anak-anak; mengeluarkan peraturan perburuhan yang menjaga kepentingan para pekerja serta menambah jumlah poliklinik dengan gratis.

Demikianlah ide-ide yang lahir berupa tuntutan kepada pihak pemerintah. Jika diteliti nampaklah bahwa tema-tema yang menjadi tuntutan SI kepada pemerintah, seluruhnya bernuansa keinginan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat dari segi ekonomi, politik, pendidikan dan juga keamanan.

PERGOLAKAN DALAM TUBUH SI
Seperti telah diungkap sebelumnya, bahwa SI pada masa perjuangannya terpecah menjadi dua bagian; SI Merah dan SI Putih. Pergolakan dan perpecahan yang terjadi dalam tubuh SI, tidaklah semata-mata bersumber dari faktor internal. Yang lebih penting diperhatikan adalah faktor eksternal yang menyebabkan pertentangan itu. Faktor eksternal dimaksud adalah rekayasa yang diciptakan oleh penjajah Belanda.
Sampai tahun 1918, organisasi Sarekat Islam telah juga diperhitungkan oleh pihak kolonial Belanda. Belanda berpendapat, bahwa persatuan Islam akan lebih berbahaya mengingat sebagian besar orang-orang Indonesia memeluk agama Islam. Apabila orang-orang Islam Indonesia dapat membentuk persatuan Islam secara mantap, maka Belanda akan sulit mengatasinya, terlebih lagi jika organisasi Islam yang telah mantap itu bergerak dalam bidang politik.

Kekhawatiran itu dapat dilihat pada usaha Belanda berusaha ingin memecah belah Sarekat Islam yaitu dengan cara memasukkan orang Belanda ke dalam tubuh Sarekat Islam. Cara Belanda untuk memecah belah Sarekat Islam, telah dirintis sejak lama.
Pada mulanya Belanda mengadakan gerakan komunis di Indonesia diawali dengan pembentukan ISDV (indische Sosial Democratische Vereeniging) atau Perhimpunan Sosial Demokratis Hindia. Organisasi ini merupakan organisasi Marxis pertama di Asia Tenggara. Sneevliet sebagai pendiri organisasi mendapat tugas dari pemerintah Belanda untuk menyelidiki organisasi Sarekat Islam. Dengan tugas tersebut, Sneevliet, mengadakan inviltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam. Anggota-anggota Sarekat Islam akan ditarik ke dalam ISDV. Semaun yang masuk Sarekat Islam pada tahun 1915, terkena pengaruh ajaran komunis yang disampaikan oleh Sneevliet. Tak lama kemudian menyusul Darsono, Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo dan lain-lain. Akibatnya Sarekat Islam menjadi retak. Salah satu pihak ingin tetap mempertahankan kemurnian organisasi Islam, dengan menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, tetapi di pihak lain telah banyak sikap yang berubah lewat pencampuradukkan ajaran Islam dengan paham komunis. Inilah yang menyebabkan kelemahan pergerakan nasional dalam organisasi Sarekat Islam kemudian. Lantas pada pertemuan selanjutnya selalu terjadi pertentangan hebat; Perpecahan ini terus berlanjut sampai dalam kongres Sarekat Islam I, II, III, dan IV.

SI putih dan SI merah ini dalam pandangan Kuntowijoyo dapat dipetakan menjadi Sosialisme komunisme (SI Merah) dan sosialisme Islam (SI putih). Baik sosialisme Islam maupun sosialisme Komunis, sama-sama ideologi, maka keduanya mempunyai watak yang sama yaitu tertutup, final dan normatif. Mereka juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu rekontruksi sosial. Tetapi keduanya mempunyai perbedaan. Kalau Komunisme adalah perjuangan untuk mengubah struktur masyarakat pada waktu itu dengan memodifikasi birokrasi, front persatuan, dan mobilitas massa, maka Islam adalah perjuangan struktural sama dengan komunisme, tetapi juga kultural dalam arti sangat tergantung pada kesadaran individual, karena itu ia juga memperhatikan agama, pendidikan dan kebudayaan. Khusus mengenai ekonomi, SI-Merah bersifat anti kapitalisme secara revolusioner, sedangkan SI-Putih juga anti kapitalisme, tetapi dengan jalan mengembangkan kooperasi. Berbeda dengan SI yang analisisnya mendasarkan diri pada fakta individual, PKI adalah perjuangan struktural yang didasarkan pada fakta sosial.

Dalam mengurai untuk melihat siapa kalah dan menang dalam pertentangan ini Kuntowijoyo, dengan menggunakan kerangka sosialisme memilih SI-Merah sebagai pemenangnya. Alasan-alasan yang dikemukakannya adalah bahwa komunisme sudah berpengalaman dengan industrialisasi dan kaum buruh, dan bagi SI Industrialisasi dan kaum buruh masih merupakan hal baru yang tanpa preseden sebelumnya. Karena itu bisa dimengerti kalau reaksi SI dapat dikatakan terlambat, too late karena pertama; kaum buruh sudah terlanjur ada; sudah terorganisasikan dengan rapih. Kedua; SI kalah bersaing dengan Marxisme yang sudah sejak pertengahan abad ke-19 mengenal buruh. Demikian juga bagi kaum buruh yang melihat ada unsur “mesianistik” pada komunisme, jawaban SI terlalu kecil, too litle, karena tidak mengandung harapan baru. Lagi pula, orientasi non materialistis terasa kurang relevan dengan kepentingan duniawi kaum buruh.
Di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto, SI lalu meretas jalan menuju gerakan politik yang terorganisir. SI kemudian menjadi cikal bakal dari pergerakan perjuangan kebangsaan Indonesia. Ia kemudian menjadi Central Sarekat Islam (CSI) dan mulai menggunakan kata nasional. Terbukti dari kongres tahunan yang diadakannya: Nationale Indische congres (NATICO). Pada gilirannya SI benar-benar menjadi organisasi atau partai politik, yaitu ditandai dengan perubahan nama menjadi Partai Syarikat Islam Hindia Timur (1923) dan pada NATICO ke-14 pada Januari 1929 di Jakarta menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

-------------------
KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan di antaranya:
  1. SI awalnya bernama Sarekat Dagang Islam yang gerakan perjuangannya terletak pada pemberdayaan ekonomi umat.
  2. Setelah masuknya HOS Tjokroaminoto, SI sebagai organisasi semakin terorganisir secara sistematis. Di tangan beliau pulalah SI menjadi gerakan sosial dan politik.
  3. SI adalah gerakan Islam pertama yang ingin memperjuangkan kepentingan umat Islam, dan yang berusaha ingin mengangkat harkat martabat umat Islam di Indonesia.



-----------------
DAFTAR PUSTAKA

Amel, HOS Tjokroaminoto; Hidup dan Perjuangannya. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Effendi, Bahtiar. Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia. Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1998.
Iskandar, Jos Sutan. Rekontruksi PSII dalam visi Rahardjo Tjakraningrat, Cet. I; Jakarta: Pustaka Nusa Centre, 2002.
Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Esai-Esai, Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Cet. I; Bandung: Mizan, 2001.
Noer, Deliar. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-19442. Cet. VIII; Jakarta: LP3ES, 1996.
Sudiyo, Perhimpunan Indonesia Sampai Dengan Lahirnya Sumpah Pemuda. Cet. I; Jakarta: Bina Aksara, 1989.


Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan titip komentar anda..