12 Maret, 2012

Sayyid Ahmad Khan (Ide – Ide Pembaharuan)

Sayyid Ahmad Khan 
(Ide – Ide Pembaharuan)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Ide pembaharuan Islam yang tercetus sejak awal abad ke – 13 H (19 M), semakin mendapatkan tempatnya di era ini. Era pasca modernisme sebagai lanjutan dari fase modern banyak memberikan peluang bagi setiap pemikiran untuk berkembang. Termasuk diantaranya adalah ide pembaruan Islam, yang menyuarakan gagasan – gagasan yang cukup memberikan suasana baru di dunia Islam, termasuk India yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini. Berbagai fenomena pascamodernisme terus melaju mengisi setiap sisi kehidupan. Warna relatifisme dan pluralisme menciptakan ruang – ruang yang lebar bagi berkembangnya ide – ide pembaharuan. Ide yang cukup relevan karena dianggap bersifat kritis dan korektif terhadap konsep apapun termasuk teks – teks keagamaan yang telah mapan.

Para pemimpin Muslim India pada pertengahan abad ke – 19 hidup dalam kehidupan baru, berfikir dengan fikiran baru, lain dari kehidupan dan pemikiran orang – orang tua dan nenek – moyang mereka. Sejarah ide Islam India pada waktu penjajahan Inggris menggambarkan beberapa aspek, yang setiap aspek berada sejajar dengan perkembangan baru dalam lingkungan sosial negeri itu. Dua aspek merupakan reaksi, dalam beberapa hal sangat keras, terhadap perkembangan baru itu. Sedangkan aspek – aspek yang lain merupakan adaptasi yang konstruktif dari Islam terhadap proses sosial.

Di dunia Islam khususnya di India, sebagian kalangan menganggap ide tersebut perlu mendapat dukungan kuat. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai bahaya besar bagi perjuangan kebangkitan umat Islam. Para orientalis dengan penuh optimistis menggantungkan harapan besar pada gerakan – gerakan pembaharuan ini. Bahkan mereka menyusun langkah – langkah khusus untuk mendorong kaum Muslimin agar berinisiatif dan aktif dalam upaya pembaharuan tersebut. Terkikisnya pemahaman Islam yang hakiki terus berlanjut sampai awal abad ke – 13 H. Saat itu umat Islam mulai mengupayakan pembaharuan untuk memahami syariat Islam yang akan diterapkan dalam masyarakat. Islam ditafsirkan tidak semata – mata selaras dengan isi kandungan nash – nash. Di saat kaum Muslimin mengalami kemerosotan berfikir, cara pandang mereka mulai teracuni oleh cara pandang asing. Tsaqofah Islam kian melemah. Upaya – upaya pembaruan semakin merebak. Para pembaharu memandang perlunya mengatasi masalah dengan melakukan interpretasi hukum – hukum Islam agar sesuai dengan kondisi yang ada. Mereka mengeluarkan kaidah – kaidah umum dan hukum – hukum terperinci sesuai dengan pandangan tersebut. Bahkan mereka membuat perspektif wahyu (al – Qur’an dan Hadits).

Sebagai langkah untuk membangkitkan kembali umat Islam khususnya di India, Sir Sayyid Ahmad Khan mengemukakan tiga langkah yang harus ditempuh, yaitu : bekerjasama dalam bidang politik, mengambil ilmu – ilmu kebudayaan Barat, dan menafsir ulang Islam dalam bidang pemikiran.

B. Rumusan dan Batasan Masalah
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
a. Siapakah Sir Sayyid Ahmad Khan?
b. Apa saja ide – ide pembaharuan Sir Sayyid Ahmad Khan?
2. Batasan Masalah
Untuk memudahkan penulis dalam membahas masalah pokok yang menjadi inti permasalahan pada pembahasan ini, maka penulis terlebih dahulu akan membatasi permasalahan yang akan dibahas. Adapun batasan masalahnya adalah sebagai berikut:
a. Pada dasarnya, sangat banyak tokoh – tokoh pembaharuan yang ada di India. Namun yang menjadi pembahasan dalam makalah ini hanya terbatas pada seorang tokoh yang sangat terkenal di India, yaitu Sir Sayyid Ahmad Khan.
b. Adapun ide – ide pembaharuan Sir Sayyid Ahmad Khan dalam pembahasan ini adalah ide pembaharuannya dalam bidang politik, pendidikan dan bidang sosial keagamaan.

---------------
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Sir Sayyid Ahmad Khan
Sir Syed Ahmed Khan , also Sayyid Ahmad Khan lahir tanggal 6 Dzulhijjah 1232 Hijriyah atau 17 Oktober 1817 Masehi di kota Delhi. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat di kota Delhi yang melalui garis kedua orang tuanya berhubungan dengan pemerintahan Mughal. Pada masa anak – anak ia mempunyai kesempatan mengikuti nasib istana Mughal berangsur – angsur runtuh . Ia biasa dipanggil dengan Sir Sayyid. Sebutan Sir ia dapatkan dari bangsa Inggris atas jasa – jasanya terhadap Inggris. Sedangkan sebutan Sayyid karena ia masih keturunan langsung nabi Muhammad SAW. Ia merupakan keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah . Ayahnya bernama Mir Muttaqi adalah seorang pemimpin agama, tetapi karena keturunan Sayyid maka ia juga memperoleh pengaruh besar dan juga sangat dihormati oleh raja Mughal pada waktu itu, Akbar Syah II.

Pada waktu Sayyid Ahmad lahir, bapaknya membawa dia kepada Syaikh Ghulam Ali, sahabat kental ayahnya yang pada waktu itu sebagai syaikh dari tarikat Mujaddidi. Syaikh itu kemudian memberikan nama Ahmad. Pada waktu anak itu mulai besar sampai kepada umur pergi ke sekolah, pertama – tama ia dibawa kepada Syaikh Ghulam Ali, yang mengajarnya huruf Arab . Ahmad Khan mendapat pendidikan formal pertama kali disebuah maktab (mungkin kalau di Indonesia semacam madrasah diniyah), yaitu lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu agama.

Di Maktab ini ia belajar bahasa Parsi, bahasa “beradab” bagi muslim India pada waktu itu, dan juga berhitung . Boleh dibilang pendidikan formal yang diperolehnya pada waktu ia kecil tidaklah demikian mendalam dan sistematis. Ia lebih banyak mendapat bimbingan dari ibunya, seorang wanita yang bijaksana, yang mengasuhnya dengan sungguh – sunguh, sehingga ia memperoleh pengetahuan yang cukup tentang beberapa ilmu pengatahuan yang biasa diajarkan di madrasah – madarasah muslim pada waktu itu . Selain itu, ia seorang anak yang sangat rajin membaca berbagai ilmu pengetahuan. Dan ditambah pengetahuannya tentang masalah – masalah kenegaraan (ilmu pemerintahan). Pengenalannya dengan kebudayaan barat diperolenya dari sang kakek dari pihak ibu, Khawaja Fariduddin, yang pernah menjadi Perdana Menteri di Istana Mughal masa Sultan Akbar II selama delapan tahun . Pada awalnya ia bekerja di The East India Company, kemudian dipindahkan ke bagian Criminal Departmen di bagian New Delhi. Pada tahun 1846, setelah lima tahun bekerja sebagai musnif di Fatihpur Sikri distrik Agra, ia dipindahkan ke Delhi, kota kelahirannya. Pada tanggal 10 Mei 1857, ketika terjadi pemberontakan terhadap kolonial Inggris, saat itu ia berada di daerah Bignapur, sebagai seorang pegawai peradilan. Ia tidak ikut memberontak, bahkan ia banyak membantu melepaskan orang – orang Inggris yang teraniaya dalam pemberontakan tersebut.

Karena jasa – jasanya itulah ia di beri gelar Sir oleh Inggris . Sir Sayyid Ahmad Khan sakit pada tanggal 24 Maret 1898, dan dua hari kemudian dengan berkomat – kamit membaca ayat – ayat al - Qur’an ia meninggal dunia . Ahmad Khan telah tiada, namun sampai kini gagasan – gagasannya masih banyak diualas oleh akademisi dan para ilmuan. Pandangan yang sangat mendasar dari Ahmad Khan adalah tentang keterbelakangan masayarakat muslim India. Menurut analisanya umat Islam di India sangat terbelakang bila dibandingkan dengan peradaban Barat karena ia tidak mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi diakibatkan oleh kejumudan pemikiran umat Islam pasca abad pertengahan, sehingga untuk melawan keterbelakangan maka yang harus dilakukan umat Islam adalah menghidupkan dan mengembangkan kembali pemikiran rasional agama zaman klasik, dengan perhatian yang besar pada sains dan tehnologi.

B. Ide – Ide Pembaharuan Sir Sayyid Ahmad Khan
1. Ide – pembaharuannya dalam Bidang Politik
Pada tahun 1857 ketika Sayyid Ahmad Khan genap berusia 40 tahun, terjadi satu fase baru dari kepribadiannya yang serba – segi itu terungkap. Pada waktu itu terjadi kekacauan politik besar terjadi yang dimulai dengan pemberontakan Angkatan Darat India terhadap pemerintahan Inggris di India yang kemudian merambah pada penduduk sipil. Menurut Sayyid Ahmad Khan, sebab pokok yang akhirnya membawa kepada pemberontakan besar tersebut adalah tidak adanya orang India yang mewakili pandangan India pada tingkat atas badan – badan yang memerintah negeri tersebut. Ia menyatakan:
“Sebagian orang setuju… adalah sangat sesuai bagi kebahagian dan kemakmuran pemerintah jika rakyat harus mempunyai suara dalam Badan – badan Perwakilannya” .

Ia membuka dengan jelas segala kejelekan yang disebabkan karena tidak adanya orang India di Dewan Legslatif, tidak mengertinya Dewan tersebut tentang pandangan yang sebenarnya mengenai orang – orang India. Selanjutnya ia menunjuk kepada campur tangan pemerintah dalam soal agama: “Tidak ada kebimbangan sedikitpun pada semua orang, baik bodoh maupun pandai tinggi atau rendah pangkatnya mempunyai keyakinan yang kukuh bahwa pemerintah Inggris condong untuk campur tangan dengan agama mereka dan adat kebiasaan mereka yang telah ada sejak lama ”. Ia juga mengeluh mengenai tidak adanya pergaulan dan komunikasi antara orang Inggris dan sebagian orang India . Ia merenungkan tragedi yang menimpa negerinya, dan mendapatkan kesimpulan bahwa hal tersebut disebabkan karena kebodohan. Oleh karena itu ia bertekad untuk mulai mendidik orang yang memerintah dan yang diperintah, dan menghilangkan sebab – sebab yang memungkinkan pertentangan dan salah paham.

Tugas pertama ia mulai dengan bukunya Causes of the Indian Revolt, dan ia teruskan sepanjang hidupnya dengan mengajukan pikiran – pikiran rakyatnya dengan berani. Untuk tujuan inilah maka pda tahun 1866, ia mendirikan British Indian Association” di Aligahr yang digambarkan sebagai pendahulu Kongres Nasional India, dan meskipun baru saja berdiri telah dapat melahirkan pelbagai macam pandangan yang berguna dan efektif bagi Parlemen Inggris dan Pemerintah di India mengenai kesulitan – kesulitan yang dihadapi rakyat India. Sayyid Ahmad Khan juga mengetahui bahwa pemberontakan tersebut dikatakan sebagai pemberontakan Muslim, dan umat Muslim ditindas dengan kekerasan. Ia berusaha untuk membetulkan kesan yang salah dari pejabat – pejabat Inggris… Namun secara politis, ia tetap melayani Inggris, dan pernah menjadi anggota Dewan Gubernur Jenderal, beberapa kali menjadi anggota komisi pemerintah dan terus mengembangkan loyalitas dari umat Islam kelas menengah di India Utara. Lebih dari itu, ia kemudian mendirikan Muhammadan Educational Conference yang segera berkembang menjadi organisasi yang sangat baik dan memperoleh dukungan dari banyak pihak, dan cabang – cabangnya segera tumbuh di kalangan masyarakat Islam India. Konferensi ini menjadi alat penyiaran ide – ide Sir Sayyid Ahmad Khan dalam bidang sosial dan agama . Selain itu, Ahmad Khan juga mendirikan organisasi yang bersifat politik, yaitu Muhammadan Defence Association, yang tujuannya adalah melindungi anggota – anggotanya dari saingan golongan yang kuat dan lebih maju .

Dalam keseluruhannya tidak diragukan lagi bahwa Sir Sayyid Ahmad Khan adalah orang yang menghabiskan umurnya untuk kesejahteraan masyarakat Muslim India dengan membina agama dan moralitas, serta loyal kepada bangsa yang memerintah mereka, yaitu Inggris.

2. Ide – pembaharuannya dalam Bidang Pendidikan
Di India pendidikan modern yang dibawa oleh Inggris pada awal abad ke – 19 telah menimbulkan dualisme sikap masyarakat Muslim. Yaitu sikap antagonis (menolak) dan sikap akomodatif (menerima) . Sikap penolakan ditunjukkan oleh sebagian besar umat Islam India, terutama para pengelola lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu – ilmu agama. Penolakan tersebut, karena meraka beranggapan apa yang dibawa oleh Inggris tidak cocok diikuti umat Islam, sebab pendidikan modern Inggris mengabaikan bidang studi dan tradisi keilmuan Islam.

Sebagian lain masyarakat Islam dapat menerima dengan lapang dada sistem pendidikan modern Inggris tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi modern yang dibawa oleh Inggris dan diajarkan pada lembaga – lembaga pendidikan Inggris tersebut merupakan sarana yang dapat membawa kemajuan umat Islam India. Sebab mereka menyadari India sangat ketinggalan jauh dengan Inggris dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Salah satu tokoh yang mendukung sikap ini adalah Ahmad Khan. Ia berpandangan bahwa saat ini umat Islam harus kembali ke teologi sunnatullah dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah seperti pada zaman Islam klasik. Ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat di Barat perlu dikuasai oleh umat Islam. Sebab ilmu pengetahuanlah yang akan mampu menghidupkan kembali orientasi keduniaan umat yang telah hilang sejak zaman pertengahan. Untuk mengusai pengetahuan dari Barat tiada lain jalan yang ditempuh adalah dengan mengakomodasi pikiran – pikiran modern termasuk pendidikan yang dibawa oleh Inggris. Pada tahun 1869, bersamaan dengan kepergian anaknya ke Inggris untuk melanjutkan studinya, ia juga pergi ke Inggris. Kepergiannya ini adalah semata – mata untuk memenuhi keingintahuannya yang sudah lama yaitu mempelajari sendiri sumber – sumber kekuatan Inggris, dengan harapan dapat mewujudkan cita – citanya menciptakan negara India yang kuat dan makmur, dapat mengikuti perkembangan zaman modern serta dapat menduduki tempat mulia dalam masyarakat dunia . Ia sadar bahwa jika rakyat tidak menerima pendidikan modern yang cukup maka keadaan mereka tidak akan tambah baik, dan tidak bisa menduduki kedudukan – kedudukan terhormat di antara bangsa – bangsa di dunia . Sekembalinya dari Inggris, ia merasa mendapat kekuatan baru yang lebih meyakinkan anggapannya bahwa selama ini ketertinggalan India dari bangsa Barat adalah karena faktor mental, Inggris memiliki mental yang kuat dalam segala hal. Dan untuk merubah mental masyarakat India harus dilakukan revolusi pemikiran dengan meninggalkan ide – ide dan kebiasaan – kebiasaan lama dan menerima tuntutan zaman modern. Bersamaan dengan itu ia mulai merintis berdirinya perguruan tinggi Islam modern. Perlu diterangkan di sini bahwa ada beberapa kelompok yang menentang pikiran – pikirannya. Yang pertama adalah jelas bahwa dia tidak memperoleh dukungan dari petani yang sebenarnya merupakan sembilan persepuluh dari penduduk India. Penduduk pedesaan sama sekali tidak mengerti tentang ide yang dilancarkan oleh Sir Sayyid Ahmad Khan. Kedua, ia ditentang oleh tingkatan yang lebih atas dari masyarakat kuno India yang mereka itu bebas, tetapi tidak mengabaikan Sir Sayyid Ahmad Khan juga tidak bebas mendukungnya. Kelompok ini adalah kelompok kecil dari penduduk kota, dan terutama para ulama yang biasa mengajarkan agama dengan bahasa Parsi. Mereka menganggap bahwa pembaharuan yang dilakukan Sir Sayyid Ahmad Khan dan terutama bahasa Inggrisnya, mengancam kedudukan mereka, baik secara idologis maupun ekonomis .

Usaha pokok Sayyid Ahmad bagi penyiaran ilmu (sebelum ia mendirikan perguruan tinggi Aligarh) adalah berdirinya The Scientific Society yang asalnya terkenal sebagai The Translation Society yang dimulai di Ghazipur pada bulan Januari 1864. Pada waktu mulai membuka sekolahan dan menentukan kurikulumnya, ia menyadari bahwa bahasa – bahasa India kurang mempunyai literatur yang berguna mengenai ilmu – ilmu yang dibahas dengan bahasa – bahasa Barat. Cita – cita Ahmad Khan untuk mendirikan Perguruan Tingi akhirnya terwujud dengan diletakkannya batu pertama pembangunan gedung perguruan tinggi tersebut oleh Gubernur Jenderal Lord Lotion (raja muda waktu itu) pada tanggal 8 Januari 1877 di kota Aligarh. Perguruan tinggi tersebut diberi nama Muhammadan Anglo Oriental College, yang lebih dikenal dengan Aligarh College . Perguruan tinggi ini adalah proontoh – Inggris. Ia mencontoh perguruan tinggi Oxford dan Cambridge, bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, kurikulumnya adalah kurikulum Barat dengan ditambah mata kuliah Agama Islam, dan dekan serta banyak dosennya adalah orang – orang inggris . Aligahr College adalah Karya besar Ahmad Khan dalam bidang pendidikan. Aligarh merupakan lembaga pendidikan Islam modern yang dikembangkan olehnya dari hasil studi panjangnya di Inggris. Sistem pendidikannya berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang ada pada waktu itu. Perbedaan tersebut nampak dalam hal materi dan tujuan pendidikan . Dari segi materi Aligarh memasukkan pengetahuan umum (ilmu pengetahuan umum dan tehnologi) dalam pembelajarannya, padahal pada era tersebut India sama sekali tidak memiliki satu lembaga pendidikan Islam yang memasukkan ilmu – ilmu umum dalam daftar mata pelajarannya . Sayyid Ahmad Khan tahu kebencian umat Islam terhadap orang – orang Kristen, tetapi bagaimanapun juga mereka harus memperoleh pendidikan Barat. Dalam prospektus perguruan Aligarh itu dengan jelas dinyatakan “ Untuk mendirikan Perguruan Tinggi yang di dalamnya umat Islam bisa memperoleh pendidikan Inggris tanpa merugikan agama mereka” .

Dengan memberikan pelajaran umum ini Ahmad Khan menginginkan hilangnya dikotomi ilmu yang ada pada benak dan pikiran masyarakat Islam India. Terlihat dari penyusunan cabang ilmu pegetahuan yang diajarkan di Aligarh. Dalam susunan itu ilmu – ilmu agama dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, bukan menjadi cabang tersendiri yang terpisah dari ilmu pengetahuan yang lain. Ahmad Khan tidak menginginkan adanya keterpisahan ilmu pengetahuan dalam pandangan umat Islam India. Dari sudut tujuan, Aligarh College memiliki tujuan yang berbeda dengan lembaga pendidikan Islam mainstrem. Ia memiliki tujuan membentuk ulama intelek, yaitu orang yang memiliki keahlian dalam bidang pengetahuan agama dan juga mahir dalam ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian diharapkan lulusan Aligarh College memiliki intelegensia yang tinggi dan adaptif dengan perkembangan zaman dan peradaban modern dengan kepribadian Muslim.

3. Ide – pembaharuannya dalam Bidang Sosial Keagamaan
Secara agamis, pandangan Sayyid Ahmad Khan sebagian dapat dilihat dari tulisan – tulisannya. Bukunya Essay on the Life of Mohammed, juga berisi jawaban – jawaban terhadap kritik Barat. Buku itu ditulis untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama terhormat dinilai dari ukuran – ukuran Barat Modern. Ia sendiri menyerap jiwa kebudayaan Barat terutama rasionalismenya. Pikirannya tidak mau terbelenggu oleh otoritas hadits dan fiqhi. Semua itu diukur dengan kritik rasional. Akibatnya ia menolak semua hal yang bertentangan dengan logika dan hukum alam. Dengan begitu ia sudah barang tentu menolak otoritas lama (taqlid).
Dalam lapangan agama, ia berusaha untuk menunjukkan persamaan dasar antara Islam dan Kristen, dan dengan itu menganjurkan kerukunan hidup antara kedua pemeluk agama tersebut. Ia menulis uraian untuk mempertahankan pendapat dibolehkannya hubungan antar orang Islam dan orang Kristen dari segi agama.

Pada waktu perguruan tinggi Aligarh didirikan, ia menyetujui untuk menyerahkan semua masalah agama tersebut kepada Komite Ulama – ulama Muslim Ortodoks dan berjanji tidak campur tangan dalam urusan tersebut. Dengan pembagian kerja seperti itu, maka segi – segi kerohanian Perguruan Tinggi tersebut memperoleh dukungan dari pribadi yang dinamis, tetapi Sayyid Ahmad tetap melaksanakan pembagian kerja tersebut. Ia bukan hanya menyerahkan urusan agama dari Perguruan Tinggi tersebut berjalan sendiri, tetapi juga tidak membolehkan karangan – karangannya yang kontroversial jatuh ke tangan mahasiswa – mahasiswanya. Tetapi di luar Perguruan Tinggi ia tetap meneruskan kegiatan – kegiatannya.
Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa al-Quran merupakan satu – satunya asas untuk memahami Islam.

Hal ini ia dasarkan pada perkataan Umar Ibnu Khathab, "Cukuplah bagi kita kitabullah". Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka untuk memahami al-Qur’an tidak mungkin bersandar pada al-Qur’an menggunakan penafsiran kontemporer. Ia berpendapat bahwa ayat – ayat muhkamat bersifat asasi atau mengandung dasar – dasar aqidah, sedangkan ayat – ayat mutasyabihat menerima lebih dari satu penafsiran yakni mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Perubahan terjadi setiap saat, ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia bertambah. Oleh karena itu untuk menghadapi perubahan tersebut harus terjadi perubahan pemahaman manusia terhadap ayat – ayat mutasyabihat. Karena boleh jadi akan ada penafsiran lain yang lebih sesuai dengan ilmu pengetahuan alam manusia masa kini .

Menurut Ahmad Khan, hanya al-Quran yang menjadi asas dalam memahami agama, sedangkan hadits yang dapat dijadikan sebagai sandaran hanyalah hadits – hadits yang sesuai dengan nash dan ruh al-Quran, yang sesuai dengan akal dan pengalaman manusia dan yang tidak bertentangan dengan hakekat sejarah. Bahkan setiap hadits yang bertalian dengan masalah dunia hanya berlaku khusus bagi kondisi dan keadaan bangsa Arab pada masa nubuwah, dan tidak mengikat bagi seluruh kaum muslimin .

Tampaknya poin terpenting yang dinafikan Ahmad Khan adalah dalam menerima hadits. Ia berpendapat perkara – perkara agama bersifat tetap, sedangkan perkara – perkara dunia berubah – ubah. Sampai disini dapat disimpulkan bahwa menurut Ahmad Khan, hadits – hadits tidak diterima sebagai sumber hukum diera setelah masa kenabian. Ia pun akhirnya menyangsikan kelayakan pendapat – pendapat fuqaha dahulu untuk diterapkan pada masa sekarang. Maka pintu ijtihad terbuka untuk seluruh masalah. Menurutnya perbedaan fisi dan kebebasan yang luas merupakan satu – satunya jalan untuk memajukan umat. Salah satu pendapatnya yang cukup mendapat tanggapan keras dari beberapa kalangan adalah bahwa Allah telah menciptakan dan membuat hukum – hukum, akan tetapi Allah tidak turut campur dalam hukum alam. Dari sini cukup memperlihatkan bahwa ia menggunakan sistem nilai dari pemikiran Barat untuk memahami agama dan menafsirkan al-Qur’an.

Sayyid Ahmad menjelajah hampir semua literatur Islam untuk menggali pendapat – pendapat yang memiliki otoritas yang mendukung tesisnya, bahwa dalam al-Qur’an tidak ada sesuatupun yang tidak sesuai dengan sains modern. Cocok dengan alam adalah ukuran untuk menilai pelbagai macam agama, dan agama Islam adalah agama yang benar karena sesuai dengan alam. “Kalimat Allah (al-Qur’an )”, ia menyatakan harus sesuai dengan perbuatan Allah (alam)”. Ia mengikuti metode Mu’tazilah dalam mencocokkan agama dengan sains, dan ia dianggap sebagai Mu’tazilah modern .
Dengan demikian dapat dipahami bahwa agama yang dipahami oleh Sir Sayyid Ahmad Khan adalah suatu paham agama yang secara eksplisit sesuai dengan kemajuan dan khususnya dengan kebudayaan Inggris pada abad ke – 19 dengan ilmu, moralitas liberal, humanisme, dan rasionalisme ilmiahnya.


----------------
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
  1. Sir Sayyid Ahmad Khan adalah salah seorang tokoh pembaharu di India pada abad ke – 19. Ia dikenal sebagai tokoh pembaharu yang ide – idenya dinilai oleh masyarakat banyak membawa kontroversial khususnya oleh masyarakat konservatif.
  2. Ide – ide pembaharuan Sir Sayyid Ahmad Khan secara rinci dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Bidang Politik
Dalam keseluruhannya Sir Sayyid Ahmad Khan adalah orang yang menghabiskan waktunya untuk kesejahteraan masyarakat Muslim India dengan membina agama, moralitas, serta loyal kepada bangsa yang memerintahnya.
b. Bidang Pendidikan
Ia berpandangan bahwa umat Islam harus kembali ke teologi sunnatullah dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah seperti pada zaman Islam klasik, dari pada itu ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat di Barat perlu dikuasai oleh umat Islam. Sebab ilmu pengetahuanlah yang akan mampu menghidupkan kembali orientasi keduniaan umat yang telah hilang sejak zaman pertengahan. Untuk mengusai pengetahuan dari Barat tiada lain jalan yang ditempuh adalah dengan mengakomodasi pikiran – pikiran modern termasuk pendidikan yang dibawa oleh Inggris.
c. Bidang Sosial – Keagamaan
Agama yang dipahami oleh Sir Sayyid Ahmad Khan adalah suatu paham agama yang secara eksplisit sesuai dengan kemajuan dan khususnya dengan kebudayaan Inggris pada abad ke-19 dengan ilmu, moralitas liberal, humanisme, dan rasionalisme ilmiahnya.

B. Saran – saran 
Secara umum makalah yang ada dihadapan bapak – bapak dan ibu – ibu peserta seminar kelas masih banyak memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, maka kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan demi perbaikan lebih lanjut.

-----------------------
DAFTAR PUSTAKA
Ali, HA. Mukti , Aliran Pemikiran Modern dalam Islam di India dan Pakistan, Bandung: Mizan,1993
---------------------, Alam Pikiran Modern di Timur Tengah, Jakarta: Djambatan, 1995.
Baljon, J.M.S. Sayyid Akhmad Khan Seorang Islam Modern dan Pembaharu Sosial, Terjemahan Amal Hamzah, Jakarta: Djaur Gatan, 1950
Engineer, ALI, Asghar Rational Approach to Islam, Delhi: Gyan Publishing House, 2001
Encyclopedia of Islam and the Muslim World, Thompson Gale 2004
Glasse, Cyril, The New Encyclopedia of Islam, Altamira Press, 2001
Sir Syed Ahmad Khan- Chronology “Sir Syed University of Engineering and Technology.http://www.Ssuet .edu.pk/Chronology.htm. Retrieved, 14 Januari 2010
"Sir Syed Ahmad Khan". Story of Pakistan. http // www. Story of Pakistan. Com / person. asp? perid= P001. 14 Pebruari 2010