30 Oktober, 2007

Dinasti fatimiyah di mesir pembentukan, Kemajuan dan kemunduran

A. Asal usul dan Pembentukan Dinasti Fatimiyah
Mesir merupakan salah satu provinsi di Timur Tengah yang berada di bawah kekuasaan khilafah Islam, yang ditaklukkan pada tahun 641 M. Pada awalnya Mesir merupakan kota yang tidak penting bagi imperium Islam. Akan tetapi pada pertengahan abad kesembilan belas, Mesir sudah menampakkan tanda-tanda awal untuk menjadi suatu wilayah yang indepeden.
Dinasti ini bermula dari gerakan Isma’iliyah yang membentuk sebuah organisasi misionari yang ekstensif dan yang mengilhami kerusuhan yang hebat di Syiria, Iraq, Arabia, dan Afrika Utara. Dengan menklaim diri mereka sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammad saw. Melalui garis Ali dan Fatimah. Mereka mulai melancarkan organisasi mereka yang berpusat di Salamiyah di Syiria pada tahun 860 M.
Gerakan politik keagamaan Syi’ah Isma’iliyah muncul ketika Abdullah bin Ma’mun menjadi pemimpinnya. Ia berjuang mengorganisir proganda Syi’ah Isma’iliyah dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Gerakan Abdullah bin Ma’mun ini dilanjutkan oleh pengikutnya yang setia dan paling bersemangat, yaitu Abu Abdillah bin Husain. Ia adalah orang Yaman asli dan sampai abad kesembilan belas ia mengklaim diri sebagai wakil al-Mahdi. Ia melakukan ekspansi ke Afrika Utara, dan berkat propagandanya yang bersemangat itu berhasil menarik simpati Barber Khitamiyah yang kemudian menjadi pengikut setia gerakan ahli bait ini.
Setelah berhasil menegakkan pengaruhnya di Afrika Utara , Abu Abdullah al-Husayn menuli surat kepada Imam Isma’iliyah, yakni Sa’id bin al-Husain al-Salamiyah agar segera berangkat ke Afrika Utara untuk menggantikan kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi gerakan Isma’iliyah. Sa’id mengabulkan undangan tersebut dan ia memproklamirkan dirinya sebagai putra Muhammad al-Habib, seorang cucu Imam Isma’il. Setelah merebut kekuasaan Ziyadatullah, ia memproklamirkan dirinya sebagai pimpinan tertinggi gerakan Isma’iliyah. Selanjutnya gerakan ini berhasil menduduki Tunis, pusat pemerintahan dinasti Aghlabiy pada tahun 909 M. Dan sekaligus mengusir penguasa Aghlabiy yang terakhir, yakni Ziyadatullah. Sa’id kemudian memproklamirkan diri sebagai imam dengan gelar “Ubaydillah al-Mahdi”. Dengan demikian terbentuklah pemerintahan dinasti Fatimiyah di Afrika Utara dengan al-Mahdi sebagai Khalifah pertamanya.
B. Kehidupan Sosial pada Masa Dinasti Fatimiyah
Kehidupan berbangsa sebagai suatu negara yang berdaulat dengan konsep persamaan hak dan dan sikap moderat dalam berfikir merupakan ciri khas dari daulah dinasti Faitimiyah di Mesir. Asimilasi dan toleransi terhadap penganut agama non-Islam khusunya Kristen Katotik dan Aramenia mendapat posisinya sejajar dengan penganut agama Islam. Bahkan tidak jarang antara mereka diangkat oleh para Khalifah sebagai pejabat-pejabat tinggi istana.
Mayoritas khalifah Fathimiyah berpola hidup mewah dan santai Al-Muntasir, misalnya mendirikan semacam pavilion di istananya, sebagai tempat memuaskan minum arak bersama dengan sejumlah penari yang menawan.
Pada masa dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir ( antara tahun 1064-1049), kota Kairo adalah kota yang sangat makmur dan sentosa. Toko-toko perhiasan dan pusat-pusat penukaran uang ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja tanpa dikunci, rakyat menaruh kepercayaan penuh terhadap pemerintah, jalan-jalan raya diterangi beberapa lampu penerangan. Penjaga toko menjual barang dengan harga jual yang telah dipusatkan dan jika seorang terbukti melanggar ketentuan harga jual akan diarak di atas unta sepanjang jalan dengan diiringi bunyi-bunyian.
Kota Kairo dihiasi dengan sejumlah masjid, perguruan, rumah sakit dan perkampungan kafilah. Tempat-tempat pemandian umum yang cukup indah dapat dijumpai di berbagai penjuru kota, baik permandian khusus untuk laki-laki maupun untuk perempuan. Pasar-pasar yang memuat 20.000 pertokoan pada dengan produk-produk dunia
Dalam bidang lainnya yang berhubungan dengan kehidupan sosial ini, khalifah Fatimiyah melakukan tiga kebijaksanaan besar, yaitu : pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi dan toleransi beragama. Dalam bidang ekonomi ia memberi gaji khusus kepada tentara, personil istana dan pejabat pemerintah lainnya.
Dalam bidang administarsi, diangkat seorang wazir (menteri) untuk melaksanakan tugas-tugas kegenaraan. Dalam bidang agama, di Mesir diadakan empat lembaga peradilan, dua untuk madzhab Syi’ah dan dua untuk madzhab Sunni.
C. Kemajuan-Kemajuan Pada Masa Dinasti Fatimiyah
Dinasti Fatimiyah telah memberikan konstribusi besar terhadap perkembangan dan kemajuan dalam hirarki sejarah Islam. Sumbangsih tersebut dapat dilihat dari berbagai karya-karyanya yang monumental, baik dalam bentuk fisik material seperti bangunan-bagunan, ornamen-ornamen, tata kota dan lain sebagainya maupun dalam bentuk berbagai bidang yang tertuang dalam bentuk buku.
Di bawah ini akan dikemukakan beberapapa kemajuan yang pernah dicapai pada masa Dinasti Fatimiyah terutama ketika dinasti ini menguasai Mesir dengan ibu kotanya Kairo, yaitu :
- Filsafat, pada masa dinasti Fatimiyah perhatian pada filsafat Yunani sangat diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan pendapat Plato dan muridnya Aristoteles. Pengadopsian pendapat filosof Yunani tersebut dilakukan dalam rangka pengembangan pengetahuan dan peradaban, disamping untuk memperkuat propaganda Syi’ah.
- Ilmu pengetahuan, masa Fatimiyah ini kurang produktif dalam mengahsilkan karya tulis dan ulama besar kecuali dalam jumlah kecil, sekalipun banyak di antara khalifah dan para wazir menaruh perhatian dan penghormatan terhadap para ilmuan. Ibnu Killis merupakan salah seorang wazir yang sangat getol dalam memperjuangkan ilmu pengetahuan dan pengajaran. Ia mendirikan akademi dan memberinya subsidi besar setiap bulan. Pada masa Ibnu Killis ini terdapat seorang fisikawan besar yang bernama Muhammad al-Tamimi. Al-Kindi sejarawan dan tofografer terbesar yang hidup di Fustat dan meninggal di tahun 961 M.
Pada masa pemerintahan al-Hakim (996-1001 M) didirkan Dar al-Hikmah, terinsipirasi dari lembaga yang sana yang didirikan oleh al-Mu’mun (Khalifah Abbasiyah) di Bagdad. Di lembaga ini banyak sekali koleksi buku-buku, tidak kurang dari 100.000 volume, boleh jadi sebanyak 600.000 jilid buku, termasuk 2.400 buah al-Quran berhiaskan emas dan perak disimpan di ruang terpisah. Lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran dan ajaran-ajaran Islam terutama Syi’ah. Menurut Cyril Elgood :
“Buku-buku lainnya- tentang ilmu-ilmu hukum (fighi), tua bahasa, retoriuka, sejarah, bigrafi, astronomi dan ilmu kimia tersimpan dalam rak (peti) buku yang luas di sekitar (sepanjang) dinding, yang terbagi dalam susunan di atas rak–rak buku, masing-masing memiliki satu pintu dengan sebuah kunci. Di atas pintu masing-masing bagian, tergantung satu daftar buku-buku yang ada di dalamnya, demikian pula peringatan (keterangan) buku–buku yang tidak ada dari masing-masing cabang ilmu pengetahuan.
Kekayaan dan kemakmuran Dinasti Fatimiyah dan besarnya perhatian para khalifahnya merupakan faktor pendorong para ilmuan untuk berpindah ke Kairo. Istana al-Hakim dihiasi dengan kehadiran Ali bin Yunus, pakar terbesar dalam bidang astronomi, dan Ibnu Ali al-Hasan ibn al-Haytami seorang fisikawan Muslim terbesar dan juga ahli di bidang optik. selain mereka berdua terdapat sejumlah sastrawan dan ilmuwan yang berkarya di istana Fatimiyah.
Khalifah Fatimiyah mendirikan sejumlah sekolah dan perguruan, dan lembaga ilmu pengetahuan. Lembaga ilmu pengetahuan yang sangat menonjol pada saat itu adalah perguruan tinggi al-Azhar, yang manfaatnya dirasakan sampai saat sekarang.
Dar al-Hikmah merupakan prakarsa terbesar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sekalipun pada awalnya lembaga ini dimaksudkan sebagai sarana penyebaran ajaran Syi’ah Isma’iliyah. Lembaga ini didirikan oleh khalifah al-Hakim pada tahun 1005 M. Al-Hakim juga besar minatnya dalam penelitian astronomi. Untuk itu ia mendirikan lembaga observatori di Bukit al-Mukattam. Lembaga observatori ini juga didirikan di tempat lain.
- Arsitektur, kemajuan terpenting pada masa Dinasti Fatimiyah adalah arsitektur megah. Beberapa kasau yang terbuat dari emas menyangga langit-langit (plafon), gambar burung dan binatang yang aneh-aneh menghiasi dinding dan furniture, beberapa pancuran air terjun yang menyejukkan udara.
- Seni arsitektur publik Fatimiyah merupakan bentuk improvisasi dari aspek-aspek seremonial Istana kerajaan. Ibu kota Fatimiyah al-Qahira (Kairo) , yang dibangun pada tahun 969, dengan sejumlah istana kebesaran dan masjid-masjid agung, merupakan sebuah kota kerajaan yang dirancang sebagai wujud bagi kebesaran kerajaan. Beberapapa masjid seperti al-Azhar dan al-Hikmah dibangun dengan sejumlah menara dan kubah yang melambangkan sifat ketinggian para imam dan mengingatkan terhadap kota suci Makkah dan Madinah sebagai sebuah cara pemuliaan terhadap khalifah lantara kesungguhannya dalam berbakti kepada Tuhan dan kedapa Islam.
- Nahwu dan kesusatraan, di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah ditemukan juga kemajuan di bidang nahwu dan sastera. Dalam bidang nahwu diupayaklan suatu gerakan untuk memperkokoh sistem linguistik Arab sehingga melahirkan teori-teori yang baru dalam bidang tersebut. Di antara tokoh yang paling terkenal dalam bidang ini adalah Abu bakar al-Adfawiy yang sangat cemerlang pengetahuannya tentang al-Qur’an dan Nahwu mengarang 120 jilid mengenai masalah ulama al-Qur’an.
Tokoh yang lain adalah Ibnu Bansyads, beliau sangat mahir dalam sastra Arab dan pengungkapan kata yang mengekspresikan jiwa seni. Beliau mencetuskan koreksi terjadap kesalahan yang terjadi dalam pengejaan dan pemakaian gramatikal yang tidak ada sebelumnya. Di antara karangannya adalah syarah kitab Al-Jumal, al-Muhatsib fi al-Nahwi dan al-Ta’liq fi al-Nahwi yang menghampiri 15 jilid.
Sya’ir mengalami kemajuannya pada masa ini dengan ditemukannya nilai-nilai dasar tentang syair yang mana sebelumnya belum pernah dikenal oleh orang Mesir. Di antara tokoh yang terkenal dalam bidang sya’ir adalah Ibnu Haniy.
Hal yang menarik dari perkembangan sya’ir ini adalah upaya untuk memasukkannya dalam wilayah politis yang mendukung dakwah Sya’ir Isma’iliyah. Sehingga sya’ir bukan hanya terpenjara dalam dimensi indera yang statis, tapi lebih sebagai suatu refleksi kebudayaan yang memiliki nilai urgensi yang dinamis dalam membentuk peradaban Fatimiyah.
D. Kemuduruan Dinasti Fatimiyah
Irama sejarah Fatimiyah tidak berbeda dengan apa yang berlangsung pada dinasti Abbasiyah. Periode antara tahun 969 sampai 1021 merupakan periode konsolidasi keagamaan dan politik. Periode kedua antara tahun 1021 sampai 1073 memperlihatkan kemunduran tantanan politik, yakni periode peperangan antara faksi-faksi militer, dan pembagian wilayah negeri ini menjadi sejumlah iqta, yang dikuasai oleh pejabat-pejabat militer yang berpengaruh. Kemunduran ini dihentikan oleh pemerintah badr al-Jamali dan puteranya, al-Afdhal, dari tahun 1073 sampai 1121, di mana kepala-kepala militer menggantikan para khalifah sebagai pimpinan pemerintah yang efektif.
Di samping itu kemunduran internal juga terjadi di kalangan Syi’ar Isma’iliyah, dengan membagi lagi identis kesejahteraan imam yang sebenarnya. Di Libanon dibentuk sekte Druze yang menyakini bahwasanya khalifah al-Hakim (w.1021) sebagai imam terakhir dan bahkan sebagai Tuhan. Pada kematian khalifah al-Mustansir pada tahun 1036, puteranya yang bernama al-Musta’li menggantikannya, tetapi gerakan misionari di Syiria, Mesopotamia dan Iran melepaskan diri dari Fatimiyah di Mesir, melepaskan hubungan rezim dengan induknya, mengakui al-Mustansir putera Nizar sebagai imam yang sebenarnya dan mendirikan sebuah cabang Isma’ilisme.
Sekalipun dengan kondisi internal yang seperti di atas, penyelidikan yang seksema mengenai sebab-sebab runtuhnya dinasti Fatimiyah dapat dikonklusikan bahwa alasan utamnya adalah campur tangan Nur al-Din dan orang-orang Salib di dalam permasalahan-permasalahan di Mesir. Akibat serangan-serangan mereka, kebijaksanaan mentri Shawar yang tidak beres, perbuatan penggatinya yang bukan-bukan melapaui batas, adalah merupakan hal ihwal, yang mendorong runtuhnya Dinasti Fatimiyah.
Ketika Fatimiyah berada dalam kemerosotan total, Nur al-Din mengirim seorang jenderalnya yang bernama Shrikuh dan memenangkan Shirkuh yang bernama Saladin (Shalah al-Din) dengan pasukan bersenjata Muslim yang berjumlah tiga ekspedisi militer untuk merebut kekuasaaan atas Mesir pada tahuna 1169.
Kekuatan Saladin segera berdiri dengan kokoh di mesir . maka dari itu, merupakan suatu hal yang sangat lazim bagi seorang Sunni yang bersemangat seperti Nur al-Din akan menginginkan agar nama khalifah Abbasiyah menggantikan khalifah Fatimiyah di dalam khutbah jum’at. Keragu-raguan Saladin untuk menempati perintah Nur al-Din disadari dengan perasaan takut bahwa tindakan semacam ini akan menimbulkan pemberontakan di antara rakyat Mesir, yang pengikatan mereka terhadap Fatimiyah bisa dikuatkan sekarang. Namun demikian Nur al-Din tidak memperdulikan dalil semacam ini, dan mengirim kembali perintah-perintah yang positif kepada Saladin sehingga gubernur-gubernurnya tidak bisa untuk menolak lebih lama.

Download makalah lengkapnya...
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan titip komentar anda..